Langkah mengejutkan datang dari Iran. Internationalmedia.co.id melaporkan, negara tersebut resmi menangguhkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan nuklir PBB. Keputusan ini langsung menuai kecaman keras dari Amerika Serikat.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, dalam keterangan pers di Washington, menyebut tindakan Iran sebagai hal yang "tidak dapat diterima". Pernyataan tersebut disampaikan Kamis (3/7), sehari setelah Teheran secara resmi menghentikan kerja sama dengan IAEA. Bruce menekankan bahwa Iran seharusnya memilih jalan perdamaian dan kesejahteraan, bukannya memutus kerja sama di tengah upaya internasional untuk pengawasan nuklir.

Amerika Serikat diketahui mendukung serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada 21-22 Juni lalu. Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut jika Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Iran sendiri selalu membantah tuduhan pengembangan senjata atom.
Bruce mendesak Iran untuk segera bekerja sama dengan IAEA, termasuk memberikan akses penuh ke fasilitas pengayaan uranium yang baru diumumkan dan informasi terkait material nuklir yang belum dideklarasikan. Ia menegaskan pendirian AS bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani undang-undang yang membatasi akses inspektur IAEA ke fasilitas nuklir Iran. Alasannya, untuk menjamin keamanan fasilitas dan para ilmuwan nuklir Iran. Keputusan ini dikhawatirkan akan semakin menyulitkan IAEA dalam memantau program nuklir Iran, yang diketahui telah memperkaya uranium mendekati tingkat senjata. Serangan udara AS dan Israel pada 22 Juni lalu menjadi pemicu utama keputusan Iran tersebut.
