internationalmedia.co.id – Suasana mencekam menyelimuti Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semula hanya membakar area gambut, kini telah merembet hebat hingga menghanguskan pemukiman penduduk. Insiden ini mengakibatkan sedikitnya 305 rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat amukan si jago merah.
Di tengah kepungan asap pekat yang menyelimuti desa, sebuah drama penyelamatan berlangsung dramatis. Tim SAR gabungan harus berjuang menembus kabut asap yang sangat tebal untuk mencari warga yang diduga masih terjebak di tengah kobaran api. Dalam operasi penyisiran yang dilakukan pada malam hari, tim berhasil menemukan satu keluarga yang tengah bertahan hidup di dalam sebuah pondok kayu.

Keluarga yang berhasil diselamatkan tersebut terdiri dari seorang ibu dan anak-anaknya. Mereka ditemukan dalam kondisi terisolasi karena akses jalan menuju pemukiman telah tertutup oleh asap hitam yang sangat pekat. Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain bersembunyi di dalam bangunan sambil menunggu bantuan datang.
Kepala Basarnas Bangka Belitung, Mikel Rachman Junika, mengonfirmasi keberhasilan evakuasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim penyelamat menemukan mereka saat sedang melakukan penyisiran intensif di area dusun yang terdampak. "Di tengah penyisiran malam hari, tim SAR berhasil menemukan satu keluarga bersama anak-anak yang masih bertahan di dalam sebuah pondok di area dusun tersebut," ungkap Mikel kepada awak media.
Mikel menambahkan bahwa situasi di lokasi kejadian sangat berbahaya karena kepungan asap sisa kebakaran yang sangat hebat. Petugas segera mengambil tindakan cepat dengan mengamankan keluarga tersebut dan membawa mereka keluar dari zona bahaya menuju titik pengungsian yang telah disiapkan oleh pemerintah setempat.
Peristiwa kebakaran ini bermula ketika Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang menerima laporan darurat dari tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Bangka Selatan pada Sabtu malam. Laporan tersebut menyebutkan adanya warga yang diduga masih terjebak di sekitar puing-puing bangunan yang telah hangus. Menanggapi hal itu, unit siaga SAR Toboali langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan penyisiran menyeluruh.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, api awalnya muncul dari kebakaran lahan gambut yang terletak tidak jauh dari area pemukiman warga. Namun, kondisi cuaca yang tidak mendukung menjadi faktor utama meluasnya api. Angin kencang yang bertiup di wilayah tersebut membuat api merambat dengan sangat cepat dari hutan menuju ke arah Dusun Serdang.
Satu per satu bangunan rumah warga dilahap api tanpa sempat dikendalikan secara maksimal oleh warga setempat. Ketidakberdayaan warga dalam menghadapi amukan api yang begitu cepat membuat mereka segera menghubungi tim gabungan untuk meminta bantuan darurat. Hingga saat ini, upaya penanganan dampak kebakaran masih terus dilakukan guna memastikan keamanan warga dan mencegah api kembali menyala.
