Internationalmedia.co.id – News – Sebuah kasus dugaan penganiayaan terhadap dua bocah di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, baru-baru ini menyita perhatian publik. Pelaku berinisial RS (52) telah diamankan pihak kepolisian atas tuduhan menyiksa kedua korban hingga mengalami luka mengenaskan. Dalam pengakuannya, RS mengungkapkan motif di balik tindakannya yang keji, mengklaim bahwa tekanan hidup yang berat menjadi pemicu utama.
Di hadapan petugas Polres Dairi, RS, yang belakangan diketahui bernama Rumondang, awalnya mengaku memiliki kasih sayang terhadap kedua korban. Namun, emosi yang tak terkontrol akibat beban hidup yang dipikulnya, termasuk memenuhi kebutuhan makan dan lainnya, mendorongnya melakukan penyiksaan. "Tak terkatakan lagi, Pak, kayak mana tekanan hidup ini. Saya yang memikirkan semuanya, kasih makan dan kebutuhan lainnya," ujarnya dalam video pengakuan yang dilansir internationalmedia.co.id, Sabtu lalu.

Rumondang mengakui bahwa metode didiknya tersebut salah. Ia menjelaskan, setiap kali korban melakukan kesalahan, ia akan menggunakan benda tumpul yang berada di dekatnya untuk memukul. Benda-benda seperti sapu hingga hanger menjadi alat yang digunakannya. Meski demikian, ia bersikeras bahwa jauh di lubuk hatinya, ia menyayangi anak-anak tersebut.
Kondisi mengenaskan salah satu bocah, AGP (7), sempat viral di media sosial. Video yang beredar menunjukkan luka parah pada bagian mulut, kepala, dan beberapa bagian tubuh lainnya, diduga kuat akibat penganiayaan. Pemandangan ini memicu kemarahan dan keprihatinan luas dari masyarakat.
Dari pengakuan korban dalam video tersebut, diketahui bahwa ayahnya sedang menjalani masa tahanan di penjara, sementara keberadaan ibunya tidak diketahui. Kasi Humas Polres Dairi, AKP Syahrial Ramadhan, membenarkan adanya dugaan penyiksaan ini. AGP (7) pertama kali ditemukan oleh warga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, dengan luka-luka yang mengindikasikan kekerasan fisik. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang kerentanan anak-anak dan dampak destruktif dari tekanan hidup yang tidak tertangani, yang sayangnya dapat berujung pada tindakan kekerasan. Pihak berwenang kini terus mendalami kasus ini untuk memastikan keadilan bagi para korban.
