Lombok Tengah berduka. Sebuah insiden kebakaran masif menghanguskan setidaknya 120 unit rumah tradisional di Kampung Adat Wisata Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut. Peristiwa nahas yang terjadi pada Sabtu malam kemarin ini tidak hanya meluluhlantakkan tempat tinggal warga, namun juga mengancam warisan budaya yang tak ternilai. Internationalmedia.co.id – News melaporkan.
Kobaran api pertama kali terlihat sekitar pukul 22.00 Wita, saat sebagian besar warga tengah beristirahat. Lalu Winakse, Kepala Desa Rambitan, yang segera terjun ke lokasi kejadian, mengonfirmasi upaya pemadaman intensif telah dimulai sejak malam itu juga. Koordinasi cepat dengan pihak terkait juga langsung diinisiasi untuk mengevakuasi penghuni rumah-rumah adat yang terancam.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, Supardan, menegaskan pihaknya langsung mengerahkan tim dan armada pemadam kebakaran ke titik api. Upaya pemadaman yang berlangsung dramatis ini sempat menyebabkan gangguan arus lalu lintas di Jalan Raya Sengkol-Mandalika. Hingga Minggu pagi, tim gabungan yang terdiri dari TNI-Polri, pemerintah daerah, serta warga setempat, masih berjibaku memadamkan bara sisa kebakaran dan membersihkan puing-puing.
Ridwan Maruf, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah, menjelaskan, sejumlah mobil tangki air turut dikerahkan untuk mempercepat proses pendinginan dan pembersihan material. "Hingga pagi hari ini, petugas kami masih berupaya keras memadamkan kepulan asap sisa kebakaran," ungkap Maruf. Ia menambahkan bahwa penyebab pasti insiden ini masih dalam penyelidikan, "belum bisa dipastikan, apakah itu akibat arus pendek listrik atau faktor lain."
Saat ini, bantuan logistik mendesak sedang disiapkan untuk para korban. Data awal menunjukkan angka mengerikan: 120 unit rumah hangus terbakar. Sementara itu, jumlah pasti penduduk yang terdampak dan penentuan lokasi pengungsian masih dalam proses pendataan dan akan diputuskan setelah rapat koordinasi hari ini.
Kisah pilu datang dari Amaq Imi, salah seorang warga yang kehilangan segalanya. Ia menuturkan, api muncul secara tiba-tiba di tengah malam, saat ia dan warga lain sedang terlelap. "Tidak ada satu pun barang yang sempat kami selamatkan, hanya pakaian yang melekat di badan ini," ujarnya dengan nada putus asa, berharap uluran tangan pemerintah. Seluruh harta benda, mulai dari kain tenun khas Sade, uang tunai, hingga alat komunikasi, tak luput dari amukan si jago merah.
Kampung Adat Sade sendiri merupakan permata budaya Lombok, terkenal dengan keunikan arsitektur rumah tradisionalnya. Atapnya terbuat dari jerami, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), dan lantainya yang khas terbuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, serta abu jerami. Struktur material yang mudah terbakar ini disinyalir mempercepat penyebaran api. Kini, sebagian besar dari warisan berharga itu telah berubah menjadi puing dan abu, meninggalkan luka mendalam bagi identitas budaya Lombok.
