Jakarta – Profesor Sri Edi Swasono, seorang Guru Besar Ekonomi terkemuka dari Universitas Indonesia, baru-baru ini dianugerahi penghargaan prestisius Anugerah Amerta Bakti dalam acara Koperasi Awards 2026. Acara tersebut berlangsung meriah di Hotel St. Regis, Jakarta, pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sri Edi menyatakan sukacitanya atas penghargaan ini, namun sekaligus menyuarakan harapannya agar koperasi tidak lagi diremehkan dalam struktur ekonomi nasional. Internationalmedia.co.id – News mencatat, di balik penerimaan penghargaan ini, terungkap sebuah pengakuan mengejutkan dari Sri Edi.
Dalam sambutannya, Profesor Sri Edi Swasono mengungkapkan bahwa ia pernah menolak penghargaan tertinggi di bidang koperasi beberapa tahun silam. "Saya sangat berbahagia menerima award ini. Perlu saya sampaikan bahwa tiga tahun yang lalu saya menerima award tertinggi dari gerakan koperasi, tetapi award itu saya tolak. Lifetime Achievement Award itu saya tolak," ujarnya di hadapan para hadirin.

Penolakan tersebut, jelas Sri Edi, bukan tanpa alasan. Ia merasa prihatin terhadap posisi koperasi yang menurutnya masih terpinggirkan dan belum terintegrasi secara menyeluruh dengan perekonomian nasional. "Karena koperasi belum terintegrasi secara nasional dengan perekonomian nasional. Jadi koperasi masih kelihatan ‘nyempil’, terpisah sendiri, dan belum terintegrasi dengan perekonomian nasional," imbuhnya, menekankan bahwa koperasi seolah berdiri sendiri tanpa koneksi kuat dengan sektor ekonomi lainnya.
Lebih lanjut, Sri Edi menyoroti adanya kesalahpahaman umum terkait amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 mengenai Demokrasi Ekonomi. Menurutnya, banyak yang menganggap koperasi hanya sebatas badan usaha, padahal esensinya lebih dari itu. Koperasi seharusnya menjadi pola pikir atau "mindset" yang melandasi seluruh pelaku ekonomi di Indonesia. "Sesungguhnya yang dimaksudkan membangun usaha yang sesuai dengan prinsip koperasi adalah dalam pengertian bahwa mindset kita, mindset Indonesia, dan ekonomi Indonesia semuanya berbasis pada asas koperasi. Artinya, berlandaskan kerja sama," jelasnya, menegaskan pentingnya semangat gotong royong dan kebersamaan.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor swasta, dan koperasi adalah kunci. Ketiga pilar ekonomi ini harus mengedepankan kerja sama nasional, gotong royong, kebersamaan, dan asas kekeluargaan, alih-alih saling berkompetisi. "Antara BUMN, swasta, dan koperasi sesungguhnya harus terjalin kerja sama nasional. Kita mengutamakan kerja sama nasional, gotong royong, kebersamaan, dan asas kekeluargaan. Artinya, kita tidak saling bertengkar dan berkompetisi, melainkan saling bekerja sama," tutur Sri Edi.
Meskipun demikian, Profesor Sri Edi Swasono menyatakan optimismenya terhadap masa depan koperasi di Indonesia. Ia meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Menteri Koperasi yang baru, Ferry Juliantono, koperasi akan mampu bangkit dan tidak lagi dipandang sebelah mata. "Koperasi saat ini masih bisa dimajukan lagi, terutama karena kita mempunyai Menteri Koperasi yang baru. Saya banyak berdiskusi dengan beliau, pemikirannya mirip dengan saya dan mirip dengan Bung Hatta. Jadi tidak sulit untuk mendorong beliau dalam memajukan koperasi Indonesia," pungkas Sri Edi, menunjukkan keyakinan besar pada sinergi pemikiran untuk kemajuan koperasi.
(Foto: Sri Edi Swasono/Rumondang Naibaho/internationalmedia.co.id)
