Bandung – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Gedung Sate, Bandung, kemarin, menjadi sorotan publik. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News, momen bersejarah ini menandai pertama kalinya Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar upacara di lokasi tersebut dengan akses yang lebih terbuka bagi masyarakat, terutama saat pertunjukan defile yang memukau.
Dalam pidatonya sebagai inspektur upacara, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rakyatnya. Ia mengakui bahwa kemerdekaan seutuhnya belum sepenuhnya dirasakan oleh semua warga, menyoroti fakta miris bahwa lebih dari 80.000 penduduk masih belum menikmati aliran listrik. Ironisnya, Jawa Barat dikenal sebagai pusat energi nasional dengan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Waduk Cirata dan Jatiluhur, serta pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Menanggapi kondisi ini, Dedi Mulyadi berjanji akan memprioritaskan pemenuhan layanan dasar yang esensial bagi masyarakat. Ia menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Barat akan difokuskan untuk memastikan tidak ada lagi warga yang terbebani utang setelah berobat di rumah sakit, atau Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka ditahan akibat ketidakmampuan membayar biaya operasi, seperti operasi caesar.
Komitmen Gubernur Dedi tidak hanya sebatas janji. Ia mengaku telah mengambil langkah nyata dengan menunda pembelian baju baru dan properti untuk rumah dinas menggunakan uang negara. "Seluruh penundaan itu untuk mengangkat derajat supaya pendidikan masyarakat Jabar meningkat, minimal 12 tahun. Agar masyarakat Jabar kesehatannya meningkat, ekonomi meningkat, memiliki kesempatan kerja," jelas Dedi, seperti dikutip internationalmedia.co.id pada Selasa (18/8/2026).
Lebih lanjut, Dedi mengajak seluruh elemen penyelenggara negara, mulai dari Kepolisian, TNI, Pengadilan, hingga instansi daerah, untuk meneladani semangat pengorbanan ini. Ia menekankan pentingnya memberikan yang terbaik bagi rakyat, bukan sebaliknya menuntut kenaikan tunjangan atau fasilitas yang sudah memadai. "Kita harus malu. Harusnya kita membangun rasa adil pada seluruh rakyat," tegasnya. Selain itu, Dedi Mulyadi juga bertekad memerdekakan generasi muda dari ancaman merusak seperti obat-obatan terlarang, demi masa depan Jawa Barat yang lebih cerah.
Antusiasme masyarakat terhadap gelaran upacara ini pun sangat tinggi. Maryam, warga Soreang, mengungkapkan kekagetannya saat diperbolehkan mendekati panggung tamu untuk menyaksikan defile secara langsung. "Biasanya penjagaan ketat, saya kaget pas warga bisa lihat lebih dekat defile," ujarnya penuh semangat.
Rasa bangga juga dirasakan oleh Maryam dan Tini, warga Pasirkoja, yang untuk pertama kalinya bisa menginjakkan kaki di halaman Gedung Sate. "Setelah dibuka seperti ini lumayan bangga karena bisa menginjakkan kaki di Gedung Sate sebagai rakyat biasa," kata Maryam. Tini menambahkan kegembiraannya melihat anaknya bisa menyaksikan barisan tentara, polisi, hingga penyapu jalan dalam defile, serta berkesempatan melihat Gubernur Dedi dari dekat.
