Internationalmedia.co.id – News – Kementerian Sosial (Kemensos) dan Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) telah memperkuat komitmen strategis mereka dalam memperluas jangkauan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang diperkirakan mencapai jutaan jiwa. Kemitraan ini bertujuan memperluas akses layanan pendidikan bagi mereka yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah formal, melalui program penyetaraan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Kesepakatan penting ini dicapai dalam pertemuan antara Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Ketua Umum SP2MI, Amirudin, di Kantor Kemensos, Jakarta, pada Kamis lalu.
Menteri Sosial, Gus Ipul, dalam keterangannya kepada internationalmedia.co.id, mengungkapkan keprihatinannya terhadap data ATS di Indonesia. "Kita menemukan banyak orang di jalan, yang tidak sekolah. Data resmi menunjukkan ATS mencapai lebih dari 4 juta orang, namun saya yakin ini adalah fenomena gunung es yang bisa jauh lebih besar, terutama mereka yang putus sekolah dari SD ke SMP," ujarnya.

Pertemuan strategis ini merupakan tindak lanjut dari Silaturahmi Nasional (Silatnas) SP2MI sebelumnya yang juga dihadiri oleh Gus Ipul. Inti dari kolaborasi ini adalah memperluas akses layanan pendidikan bagi anak atau remaja dari keluarga kurang mampu yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal, dengan fokus pada program penyetaraan di PKBM.
Dalam kemitraan ini, Kemensos akan menyediakan fasilitas fisik untuk PKBM. Pemanfaatan gedung-gedung Sekolah Rakyat rintisan yang berada di Sentra Kemensos, yang saat ini tidak lagi digunakan karena siswanya telah berpindah ke fasilitas permanen, menjadi solusi lokasi. Sementara itu, SP2MI akan bertanggung jawab menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas untuk mendidik para penerima manfaat. "Penyediaan tenaga pengajar, itulah yang menjadi fokus kerja sama kita. Ini akan dimulai dari skala kecil, namun dengan visi untuk diterapkan secara nasional," jelas Gus Ipul.
SP2MI sendiri memiliki anggota yang tersebar di berbagai daerah dan dikenal aktif dalam pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Pengalaman ini memberikan mereka keunggulan dalam menjangkau anak-anak yang berada di luar sistem pendidikan formal dan memberikan pendidikan yang relevan.
Gus Ipul juga mendorong agar kolaborasi ini dapat bersinergi dengan program Sekolah Rakyat. Calon siswa yang sebelumnya tidak sekolah atau putus sekolah dapat melakukan penyetaraan pendidikan di PKBM terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pendidikan formal sesuai jenjangnya di Sekolah Rakyat. "Program Sekolah Rakyat ini memang dirancang untuk menjangkau mereka yang tidak masuk sistem pendidikan formal karena berbagai sebab, terutama faktor ekonomi. Tidak mungkin kita menolak remaja usia 24 tahun hanya karena usianya. Jika ia belum pernah sekolah, ia harus diproses, namun disetarakan dulu di PKBM," paparnya.
Menteri Sosial berharap proses penyetaraan pendidikan ini dapat berjalan dengan cepat dan menjangkau lebih luas lagi "the invisible people" atau mereka yang selama ini belum terjangkau dalam proses pembangunan. "Ini adalah upaya percepatan agar mereka yang tidak sekolah bisa bersekolah, yang buta huruf bisa membaca, dan yang tidak punya ijazah bisa memiliki ijazah, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bekerja," tegas Gus Ipul.
Menyambut baik inisiatif ini, Ketua Umum SP2MI, Amirudin, menyampaikan apresiasinya atas sambutan positif Kemensos terhadap kolaborasi ini. Pihaknya berkomitmen untuk menyiapkan dan melakukan pelatihan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pengajar yang akan ditempatkan di Sentra Kemensos. "Kami akan segera menindaklanjuti dengan penyusunan nota kesepahaman bersama Kemensos melalui Bapak Dirjen Rehsos. Kami sudah meminta kontak person beliau agar ini segera terealisasi," kata Amirudin.
Pertemuan penting ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan, Ketua SP2MI Jawa Tengah Abdul Munir, Ketua SP2MI Pekalongan Syamsul, serta berbagai pemangku kepentingan terkait lainnya.
