Internationalmedia.co.id – News – Kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia dilaporkan memburuk drastis, menarik perhatian media setempat, menyusul kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah asap tersebut terdeteksi melintasi batas negara dan menyelimuti Sarawak. Media terkemuka Malaysia, The Star, seperti yang dilansir Internationalmedia.co.id pada Rabu (12/8/2026), mengungkapkan bahwa sepuluh area di Malaysia kini mencatat Indeks Polusi Udara (API) dalam kategori tidak sehat, dengan sembilan di antaranya berada di Sarawak.
Mengutip data dari Air Pollutant Index Management System (APIMS) milik Departemen Lingkungan Malaysia, wilayah-wilayah yang paling terdampak di Sarawak meliputi Serian, Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Mukah, Bintulu, dan Samalaju. Serian mencatat angka API tertinggi mencapai 180, diikuti oleh Kuching dengan 162 dan Samarahan 163. Sementara itu, Sibu berada di angka 158, Sri Aman 153, Sarikei 154, Mukah 156, Bintulu 147, dan Samalaju 142, berdasarkan pembaruan data pada Senin (10/8) pagi. Selain wilayah Sarawak, Johan Setia di Selangor juga menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat dengan angka API 153. Dalam klasifikasi API Malaysia, rentang 101-200 menandakan kategori tidak sehat, sedangkan 51-100 masuk kategori sedang.

The Star menambahkan bahwa penurunan kualitas udara ini terjadi di tengah kondisi cuaca kering dan kabut asap yang menyelimuti Sarawak. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) mengonfirmasi adanya kepulan asap dari titik panas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang bergerak ke arah utara, tepatnya menuju wilayah barat Sarawak. ASMC juga memberikan peringatan bahwa kondisi kering diperkirakan akan terus berlanjut di sebagian besar wilayah selatan ASEAN, meningkatkan risiko kabut asap lintas batas, terutama di daerah yang mengalami kekeringan berkepanjangan. Departemen Meteorologi Malaysia turut memprediksi cuaca panas dan minim hujan akan mendominasi sebagian besar wilayah Kalimantan, termasuk Sarawak, hingga Jumat mendatang.
Masyarakat Malaysia, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat gangguan jantung atau paru-paru, diimbau untuk terus memantau perkembangan indeks kualitas udara. Warga juga disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dalam durasi panjang apabila kualitas udara memburuk.
Dari sisi Indonesia, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dodi Yuleova, dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Polhukam Djamari Chaniago pada Senin (10/8), membahas potensi dampak asap karhutla lintas batas negara. Dodi menjelaskan bahwa perubahan musim menyebabkan pergerakan angin dominan dari tenggara ke barat, yang berpotensi membawa asap dari wilayah Indonesia menuju Malaysia. Berdasarkan pantauan citra satelit, asap karhutla terdeteksi melintasi perbatasan ke wilayah Malaysia yang berdekatan dengan Kalimantan Barat pada tanggal 4 dan 6-9 Agustus 2026.
Dodi menambahkan, pada tanggal 9 Agustus 2026, beberapa wilayah di Indonesia juga menunjukkan kategori kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif, bahkan hingga sangat tidak sehat. Nilai Air Quality Index (AQI) tertinggi tercatat di Kota Pontianak sebesar 193. Kondisi ini, menurut Dodi, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan balita.
