Ancaman kekeringan serius membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi kekeringan ekstrem yang diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali, hingga Kalimantan bagian selatan. Merespons prediksi tersebut, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat langkah mitigasi. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Singgih menekankan pentingnya respons cepat sebelum dampak buruk kekeringan meluas.
Menurut Singgih, informasi dari BMKG ini bukan sekadar data, melainkan sebuah sinyal darurat yang harus ditindaklanjuti dengan aksi konkret. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menunggu hingga masyarakat menghadapi krisis air bersih, penurunan drastis hasil pertanian, atau merebaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak terkendali, baru kemudian bertindak.

Penanganan ancaman kekeringan ini, lanjut Singgih, memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kementerian terkait, aparat TNI-Polri, serta partisipasi aktif relawan kebencanaan. Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi dan pencegahan jauh lebih efektif serta efisien dibandingkan penanganan reaktif setelah bencana terjadi.
Koordinasi lintas sektor dan lembaga menjadi kunci utama. Kementerian Pertanian, misalnya, diimbau untuk segera menyusun strategi antisipasi terhadap potensi penurunan produksi pangan. Sementara itu, Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah harus memastikan ketersediaan bantuan dan dukungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak kekeringan jangka panjang.
Selain itu, kesiapsiagaan menghadapi peningkatan risiko karhutla selama musim kemarau juga menjadi perhatian serius. Singgih mendorong agar upaya pencegahan, seperti patroli rutin di area rawan, edukasi masif kepada masyarakat tentang bahaya dan cara mencegah karhutla, serta pemantauan ketat terhadap titik-titik panas, harus menjadi prioritas utama demi mencegah bencana yang lebih besar. "Kita memang tidak bisa mengendalikan cuaca, namun kita sepenuhnya bisa mengendalikan tingkat kesiapsiagaan kita," pungkasnya. "Dengan mitigasi yang matang, koordinasi yang solid, dan respons yang tanggap, dampak kekeringan terhadap masyarakat dapat diminimalisir semaksimal mungkin."
Prediksi BMKG yang Mengkhawatirkan
Secara terpisah, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, telah memaparkan detail prediksi mengenai puncak musim kemarau tahun 2026. Ia menyatakan bahwa periode terparah diperkirakan jatuh pada bulan Agustus hingga September. Guswanto mengonfirmasi bahwa sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan, diproyeksikan menjadi daerah dengan potensi kekeringan tertinggi.
Curah hujan di wilayah-wilayah tersebut, menurut Guswanto, diperkirakan akan tetap berada di bawah normal hingga awal Oktober. Kondisi ini secara langsung meningkatkan potensi terjadinya kekeringan ekstrem, meluasnya karhutla, dan krisis air bersih yang memerlukan antisipasi dini dan serius.
Pulau Jawa, dengan kepadatan penduduk dan intensitas aktivitas pertanian yang tinggi, diprediksi menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terdampak. Selain proyeksi curah hujan di bawah normal hingga Oktober, tingginya kebutuhan air di kawasan ini memperparah risiko krisis.
Bali dan Nusa Tenggara juga dihadapkan pada proyeksi musim kemarau yang panjang. Kondisi klimatologis kedua wilayah yang memang cenderung kering, akan meningkatkan risiko karhutla secara signifikan. Di Kalimantan, khususnya bagian selatan dan tengah, defisit curah hujan berpotensi memicu lonjakan titik panas yang dapat berujung pada karhutla skala besar. Sementara itu, Sulawesi Selatan diperkirakan mengalami defisit hujan hingga September, menuntut kewaspadaan tinggi terhadap dampak pada sektor pertanian dan pasokan air.
Guswanto menambahkan, meskipun puncak kemarau diprediksi pada Agustus-September, awal musim hujan baru akan mulai memasuki sebagian wilayah barat Indonesia pada Oktober, dan diperkirakan meluas ke wilayah lain pada November.
