Jakarta – Internationalmedia.co.id – News – Dalam sebuah momen krusial pada Puncak Harlah ke-28 PKB yang baru-baru ini digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Ijtima Ulama PKB secara resmi menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada Presiden Prabowo Subianto. Amanat penting ini dibacakan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa, Simpang Sumedang, Jawa Barat, KH Muhyidin Al-Manafi.
KH Muhyidin Al-Manafi menjelaskan bahwa rekomendasi ini lahir dari pencermatan mendalam para ulama, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh agama yang tergabung dalam Ijtima Ulama Indonesia terhadap dinamika nasional, perubahan tatanan global, serta arah pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Intinya, mereka mendesak keberlanjutan pembangunan nasional dan perwujudan ketahanan pangan.

Poin pertama dari rekomendasi tersebut menekankan penguatan negara demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, maju, dan sejahtera. Ijtima Ulama secara tegas menyatakan dukungan terhadap langkah-langkah strategis Presiden Prabowo dalam memperkokoh kedaulatan bangsa, membangun kemandirian ekonomi melalui percepatan industrialisasi dan hilirisasi, serta mewujudkan ketahanan pangan dan energi. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembalian arah pembangunan nasional sesuai amanat Pancasila serta Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 demi kemakmuran rakyat juga menjadi fokus utama.
Selanjutnya, rekomendasi kedua menyoroti pentingnya memastikan bahwa negara yang kuat senantiasa beroperasi dalam koridor konstitusi, keadilan, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Ijtima Ulama mengingatkan bahwa kekuatan negara merupakan instrumen untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Oleh karena itu, percepatan pembangunan harus diimbangi dengan penguatan institusi, penghormatan terhadap konstitusi, penegakan supremasi hukum, serta tata kelola pemerintahan yang bersih, profesional, dan akuntabel. Dorongan untuk menjunjung meritokrasi, memberantas korupsi dan penyalahgunaan wewenang, serta membuka ruang bagi partisipasi dan kritik konstruktif dari masyarakat juga menjadi bagian integral dari poin ini. Mereka berharap negara yang kuat dapat melahirkan institusi yang kokoh, menghadirkan kesejahteraan, dan membangun kepercayaan publik.
Terakhir, rekomendasi ketiga menegaskan komitmen Ijtima Ulama untuk terus menjalankan amanah amar ma’ruf nahi munkar, memperkuat ukhuwah, menjaga persatuan, serta memberikan dukungan, nasihat, dan koreksi konstruktif bagi penyelenggaraan negara. Mereka meyakini bahwa semakin sehat dan kuat Nahdlatul Ulama, semakin besar kontribusinya bagi umat, semakin kokoh persatuan bangsa, dan semakin efektif negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Setelah seluruh poin rekomendasi dibacakan, naskah tersebut langsung diserahkan secara simbolis kepada Presiden Prabowo Subianto, menandai harapan besar para ulama terhadap kepemimpinannya.
