Memasuki hari kelima, upaya pemadaman kebakaran hebat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, masih terus berlangsung. Ironisnya, di tengah meluasnya area terdampak hingga belasan hektare, fenomena warga yang berkerumun menyaksikan musibah ini menjadi sorotan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, tim gabungan berjibaku melawan api yang kian sulit dikendalikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang bersama personel gabungan dari berbagai instansi tak henti-hentinya berjuang memadamkan api. Laporan terkini dari petugas TPA menunjukkan bahwa titik-titik api baru terus bermunculan di atas tumpukan sampah. Salah satu kendala terbesar adalah embusan angin kencang yang mempercepat laju penjalaran api, membuat area kebakaran semakin tak terkendali. Sebanyak 19 unit mobil pemadam kebakaran, didukung pompa alkon, serta dua unit helikopter water bombing milik BNPB telah dikerahkan untuk memadamkan api dari darat dan udara.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, pada Sabtu (4/7/2026) siang, turun langsung meninjau lokasi bencana. Didampingi sejumlah pejabat tinggi, termasuk Deputi PPKL KLH Rasio Ridho Sani, Deputi Gakkum KLH Rizal Irawan, Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid, dan Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan, Wamen Diaz menyaksikan langsung kondisi TPA. Meskipun kobaran api di permukaan tampak mereda, kepulan asap putih pekat masih masif membubung tinggi dari gunungan sampah, mengindikasikan api masih aktif di bagian dalam.
Deputi Gakkum KLH, Rizal Irawan, menjelaskan bahwa perluasan area terdampak menjadi tantangan serius. Dari total luas TPA sekitar 33 hektare, area yang terbakar telah meluas drastis. "Awalnya 3 hektare, namun hingga tadi malam, estimasinya sudah mencapai 15 hektare per 3 Juli pukul 20.00 atau 21.00 WIB," ungkap Rizal. Analisis menggunakan video drone thermal bahkan mendeteksi ratusan titik panas yang tersebar di berbagai tumpukan sampah. Kondisi topografi gunungan sampah yang mencapai ketinggian 20-30 meter menjadi penyebab utama sulitnya pemadaman, karena api dapat tersimpan jauh di dalam.
Rizal Irawan juga menegaskan bahwa kebakaran sampah ini jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lahan gambut. "Gambut kedalamannya hanya 4-5 meter, sedangkan di sini bisa mencapai 20-30 meter," jelasnya. Lebih lanjut, keberadaan gas metana yang mudah meledak di dalam tumpukan sampah meningkatkan risiko bahaya secara signifikan. Pemerintah Kabupaten Tangerang sendiri telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan.
Di sisi lain, Kapolresta Tangerang, Kombes Andi Muhammad Indra Waspada, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi petugas dalam mengendalikan kerumunan warga. "Memang semenjak hari pertama kami bertugas di sini sampai hari kelima ini, banyak masyarakat yang ingin melihat ke sini, Pak Wamen," lapor Indra kepada Wamen Diaz. Fenomena ini diperparah dengan alasan warga yang menganggap menonton kebakaran sebagai ‘hiburan’ di masa liburan. "Mereka justru komplain, ‘Pak ini kan hari libur Pak, kalau Bapak ke mal, saya cuma bisa melihat ini’," tiru Indra, menggambarkan resistensi warga. Untuk mengatasi hal ini, Polresta Tangerang telah mendirikan empat titik pos pengamanan berlapis guna mencegah warga masuk ke area TPA.
Melihat kondisi tersebut, Wamen LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono secara tegas mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan bencana ini sebagai tontonan. "Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton," tegas Diaz. Ia memperingatkan bahwa kepulan asap tebal dari tumpukan sampah yang terbakar mengandung zat berbahaya. Semakin dekat warga dengan lokasi, semakin tinggi risiko terpapar penyakit pernapasan akut (ISPA) dan potensi karsinogenik yang mengancam kesehatan jangka panjang. "Tadi saya minta Kapolres untuk memberikan imbauan agar menjauhi area TPA yang sedang mengalami bencana ini," tutupnya, menekankan pentingnya keselamatan warga.
