Jakarta – Kisah inspiratif datang dari Azwir Rahim, seorang putra Minang yang akrab dengan tradisi merantau, meninggalkan tanah kelahirannya di Padang demi mengadu nasib di ibu kota. Dengan modal awal yang tak seberapa, sekitar dua belas tahun silam, ia memberanikan diri merintis usaha nasi padang yang kini dikenal dengan nama Sambalado Baru. Perjalanan Azwir, dari modal Rp 10 juta hingga menjadi penopang ekonomi keluarga, adalah cerminan ketekunan dan semangat pantang menyerah. Internationalmedia.co.id – News berkesempatan menggali lebih dalam lika-liku perjalanan bisnisnya.
Di tengah kesibukan melayani pelanggan di warung Sambalado Baru miliknya, Azwir meluangkan waktu untuk berbagi kisah perjalanan bisnisnya kepada internationalmedia.co.id. Dengan antusias, ia menceritakan bagaimana usaha yang ia rintis bertahun-tahun lalu perlahan berkembang. Sebelum terjun ke dunia kuliner, Azwir sempat bekerja sebagai sekuriti di Jakarta Utara. Titik balik terjadi setelah pernikahannya pada tahun 2012, saat ia memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan membuka usaha kuliner khas Minang tersebut, dibantu oleh mertuanya.

"Tinggal sama dia itulah alhamdulillah dibantu mertua, baru lah kita usaha," kenang Azwir saat berbincang dengan internationalmedia.co.id di warung nasi padang miliknya yang berlokasi di Desa Bojong, Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Pria berusia 46 tahun ini mengakui bahwa masa-masa awal penuh perjuangan. "Sakit-sakitan dulu kita yang namanya merintis, kadang ramai, kadang sepi," ujarnya jujur, menggambarkan kondisi penjualan yang belum stabil.
Dengan modal awal sekitar Rp 10 juta, Azwir kala itu merasa cukup untuk membelanjakan bahan-bahan makanan, mengingat harga kebutuhan yang belum setinggi sekarang. Di fase awal, ia mengelola warung seorang diri. Namun, seiring berjalannya waktu dan usaha yang mulai menunjukkan perkembangan, ia kemudian mempekerjakan dua orang pegawai untuk membantu operasional.
Beberapa tahun kemudian, Azwir membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi. Ia pun mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada tahun 2015. Dana tersebut sempat ia gunakan untuk membuka cabang baru di wilayah Bogor. Namun, perjalanan cabang tersebut tidak mulus. Setelah bertahan beberapa tahun, warung itu akhirnya ditutup akibat berbagai tantangan, termasuk dampak pandemi COVID-19 yang signifikan terhadap penjualan. Meski demikian, Azwir memilih bertahan dan kini usahanya perlahan kembali bangkit. "Sekarang alhamdulillah lah udah ada mulai peningkatan-peningkatan dikit-dikit," ungkapnya.
Selama menjalankan usahanya, Azwir telah mengajukan pinjaman KUR BRI sebanyak lima kali, dengan nominal bervariasi mulai dari Rp 10 juta, Rp 15 juta, Rp 25 juta, Rp 30 juta, hingga Rp 35 juta, dengan tenor angsuran rata-rata dua tahun. Ia mengapresiasi proses pengajuan KUR BRI yang selalu berjalan lancar dan cepat. "Cepat. Langsung proses, langsung pencairan gitu kan, nggak lama-lama dia, karena BI checking kita kan bagus," jelas Azwir.
Di warungnya, Azwir menyajikan beragam menu mulai dari ayam, ikan, daging sapi, hingga telur, dengan harga yang sangat terjangkau, serba Rp 13 ribu per porsi. "Walaupun sedikit yang penting alhamdulillah lancar," ujarnya. Pelanggan warung Azwir tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga pembeli melalui layanan daring, serta pesanan dalam jumlah besar dari kantor desa maupun puskesmas setempat. "Kantor desa kan ada acara, Puskesmas gitu kan misal ada acara-acara, borongan. Kadang 100 bungkus, kadang 50 bungkus," katanya. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 100 bungkus nasi padang, meskipun ia mengakui kondisi ekonomi saat ini membuat penjualan belum selalu stabil.
Azwir bersyukur atas bantuan pinjaman KUR BRI yang sangat membantu mempertahankan dan memutar kembali usahanya. "Untunglah ada bantuan dari KUR bank BRI. Jadi kita bisa memutar-mutar uangnya," imbuhnya. Saat ini, Azwir memperkirakan keuntungan harian yang diperoleh sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Meski tidak besar, ia tetap bersyukur masih bisa memperoleh pendapatan di tengah meningkatnya biaya kebutuhan. "Saya bilang yang penting usaha itu lancar walaupun sedikit, yang penting perputaran uang itu ada terus," kata Azwir.
Berkat usaha nasi padang ini, Azwir mengaku dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari renovasi rumah hingga membantu orang tua. "Alhamdulillah kebantu lah semuanya, bisa renovasi rumah, bagus-bagusin rumah," ujar Azwir. Selain itu, keuntungan tersebut juga digunakan untuk membiayai pendidikan kedua anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SD dan SMP. "Ya alhamdulillah semenjak ada bantuan dari KUR BRI ya bisa menambah usaha, bikin maju, bikin besar usaha gitu," imbuhnya, menyampaikan terima kasih kepada BRI atas dukungan modal usaha yang sangat berarti.
Mokhamad Rokhmat, Kepala Unit BRI Gandoang Kabupaten Bogor, secara terpisah menegaskan komitmen BRI dalam mendukung pelaku usaha agar berkembang dan "naik kelas". "Mudah-mudahan dengan adanya ini, penginnya bisa membantu masyarakat kecil, naik kelas lah bisa dibilang. Yang tadinya mungkin usaha ultra mikro, dia naik kelas, naik kelas ke apa? Usaha mikro. Mikro nanti jadi mungkin ke ritel, ritel menengah ke atas," ujar Rokhmat kepada internationalmedia.co.id. Ia menambahkan, perjalanan usaha tidaklah singkat, sehingga BRI selalu hadir dalam setiap proses, termasuk memberikan pendampingan di masa sulit seperti pandemi.
