Internationalmedia.co.id – News – Di tengah hiruk pikuk dan aroma khas Jakarta, Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawajati, Jakarta Selatan, menjadi saksi bisu perjuangan banyak orang. Antrean panjang motor pengangkut sampah yang membentang jauh hingga dekat Stasiun Duren Kalibata, terutama setelah pembatasan kuota pembuangan di TPST Bantargebang, adalah pemandangan sehari-hari. Namun, di balik tumpukan limbah kota ini, terukir kisah inspiratif Jenal Abidin, seorang pria berusia 38 tahun yang berhasil mengubah nasibnya dari pengais rezeki menjadi pengusaha sukses berkat ketekunan dan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Setiap harinya, Jenal harus menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Bau menyengat, cuaca tak menentu, dan yang paling sering, antrean panjang di TPS Rawajati yang menghambat aktivitas bongkar muat. "Dampaknya memang banyak waktu terbuang kalau macet begini, seharusnya kita bisa pilah-pilah barang yang di rumah kan, sekarang jadi macet," ungkap Jenal saat berbincang dengan internationalmedia.co.id beberapa waktu lalu. Kondisi ini seringkali membuatnya baru bisa pulang ke rumah hingga malam hari, padahal ia sudah berangkat sejak pukul 07.30 WIB.

Perjalanan Jenal di ibu kota dimulai pada tahun 2000, saat ia merantau dari Karawang. Dengan pilihan pekerjaan yang terbatas, ia memutuskan untuk mengikuti jejak temannya menjadi penarik sampah swadaya. Awalnya, ia bertugas sebagai kenek, membantu mengangkut sampah dari permukiman warga. Momen krusial datang pada tahun 2008 ketika ia berhasil membeli "lahan penarikan" sampah sendiri dari seorang teman. Dari gerobak sederhana, usahanya terus berkembang. Pada 2013, ia berhasil memiliki motor roda tiga untuk mengangkut sampah, dan tiga tahun kemudian, satu armada lagi ditambahkan, kini dioperasikan oleh adiknya.
Pendapatan Jenal tidak hanya berasal dari iuran bulanan warga yang menggunakan jasanya, yang berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per rumah. Ia juga cerdik memanfaatkan sampah-sampah yang bisa didaur ulang, seperti kardus, botol plastik, dan besi bekas. Barang-barang ini kemudian dijual kepada pengepul di sekitar rumahnya, menambah pundi-pundi penghasilannya hingga ratusan ribu rupiah dalam seminggu. Dari kombinasi ini, Jenal mampu meraup penghasilan lebih dari Rp 5 juta per bulan, sebuah angka yang cukup fantastis dari usaha pengangkutan sampah.
Titik balik signifikan dalam pengembangan usahanya terjadi pada tahun 2018. Jenal memutuskan untuk mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI dengan nominal awal Rp 25 juta. Kepercayaan BRI terhadap potensi usahanya membuahkan hasil. Hingga saat ini, Jenal telah mengajukan pinjaman sebanyak empat kali, dengan nominal yang terus meningkat hingga Rp 50 juta.
Dana KUR tersebut dimanfaatkan Jenal untuk memperluas cakupan area penarikan sampahnya. Dalam komunitas penarik sampah swadaya, terdapat aturan tak tertulis di mana "lahan penarikan" atau wilayah layanan dapat dialihkan dengan sejumlah uang ketika seorang penarik berhenti atau pensiun. "Kayak ibarat uang pesangon lah kalau kata orang-orang gedean mah," jelas Jenal. Dengan modal dari BRI, ia berhasil menambah wilayah layanannya, termasuk di kawasan Pasar Minggu hingga Ragunan, yang secara langsung meningkatkan pendapatannya.
Dampak positif dari pengembangan usaha ini sangat dirasakan Jenal. Selain peningkatan pendapatan yang signifikan, ia juga mampu menabung dan bahkan merenovasi rumahnya di kampung halaman, Karawang. "Alhamdulillah banyak manfaatnya. Bisa ngembangin usaha untuk menambah penghasilan. Termasuk saya bisa renovasi rumah," ungkapnya dengan bangga.
Kisah sukses Jenal ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen BRI dalam mendukung kemajuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan Jenal. "Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi di kantornya. Ia menambahkan, BRI akan terus mempermudah akses layanan perbankan bagi UMKM, dengan harapan para pelaku usaha dapat terus berkembang dan "naik kelas."
Kisah Jenal Abidin adalah inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa dengan kegigihan, inovasi, dan dukungan modal yang tepat, bahkan dari sektor yang sering dipandang sebelah mata, seseorang bisa meraih kesuksesan dan mengubah hidupnya secara drastis.
