Udara sejuk khas peralihan musim semi menyambut rombongan jurnalis Indonesia setibanya di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. Momen ini menandai dimulainya ekspedisi selama sepekan di Negeri Ginseng, bagian dari program bergengsi The Indonesian Next Generation Journalist Network. Internationalmedia.co.id – News bersama sejumlah rekan media lainnya berkesempatan mengikuti inisiatif yang diselenggarakan oleh Korea Foundation bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) pada pertengahan Juni lalu. Program ini dirancang khusus untuk mempererat pemahaman tentang Korea Selatan, sekaligus merayakan jalinan persahabatan yang telah lama terukir antara Jakarta dan Seoul.
Setibanya di ibu kota, rombongan langsung disambut hangat dalam jamuan makan siang di Samcheonggak oleh Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, beserta jajarannya. Suasana akrab terjalin dalam perbincangan yang dihiasi sentuhan budaya dan seni. Sore harinya, penjelajahan berlanjut ke Museum Nasional Korea, sebuah gerbang menuju kekayaan sejarah Negeri Ginseng. Di antara berbagai artefak, Pagoda Batu Sepuluh Tingkat menjadi sorotan utama. Struktur megah ini bukan sekadar peninggalan Dinasti Goryeo yang berpadu dengan pengaruh Dinasti Yuan Tiongkok, melainkan juga saksi bisu perjuangan Korea Selatan. Sempat dicuri dan dibawa ke Jepang pada 1907, pagoda ini berhasil direbut kembali pada 1918, menjadi simbol ketahanan nasional. Hari pertama ditutup dengan santap malam di Taman Banpo Hangang, menikmati keindahan Sungai Han yang menenangkan.

Esoknya, agenda diplomatik membawa rombongan ke Gedung Majelis Nasional Korea Selatan. Ketua Komite Persahabatan Majelis Nasional Korea Selatan-Indonesia, Gi-hyeon Kim, menyambut para jurnalis di ruang Komite Urusan Diplomasi dan Unifikasi. "Tempat ini adalah ruang diplomasi, sangat bermakna untuk menjamu Anda di sini," jelasnya, menekankan pentingnya pertemuan tersebut. Gi-hyeon Kim menggarisbawahi eratnya hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1973, mencapai usia emas 50 tahun pada 2023. Ia juga menyinggung kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan baru-baru ini, yang memperkuat ikatan personalnya dengan Indonesia. Dengan lebih dari 80 ribu WNI di Korea dan 27 ribu WN Korea di Indonesia, serta popularitas konten K-Pop dan drama Korea, Gi-hyeon Kim berharap pertukaran budaya dan seni terus berkembang, mempererat persahabatan kedua bangsa.
Dari parlemen, rombongan menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, disambut oleh Duta Besar Cecep Herawan. Dubes Cecep menekankan peran jurnalis sebagai agen persahabatan, memperkuat hubungan yang telah terjalin sejak 1973. Ia mengungkapkan kebanggaan atas status "Special Comprehensive Strategic Partnership" yang unik antara Indonesia dan Korea Selatan, sebuah tingkatan hubungan diplomatik yang hanya dimiliki Indonesia. "Ini menunjukkan dalamnya kepercayaan dan posisi istimewa Indonesia di mata Korea," tegas Dubes Cecep. Kemitraan ini meluas ke berbagai sektor, termasuk pertahanan. Indonesia bukan hanya pengguna alutsista Korea seperti KRI Mandau, pesawat latih KT-1, T-50, dan kapal selam Nagapasa, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan jet tempur canggih KF-21 Boramae, dengan insinyur dan pilot Indonesia yang terlibat langsung.
Selain diplomasi, rombongan juga menelusuri berbagai sisi kemajuan Korea Selatan. Kunjungan ke Kementerian Luar Negeri tak hanya membahas dinamika hubungan bilateral dan global, tetapi juga membuka kesempatan berdialog dengan jurnalis lokal, bertukar pandangan tentang lanskap media dan tantangan AI. Diskusi investasi dan kerja sama ekonomi menjadi fokus di kantor Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND). Para jurnalis juga berkesempatan berdiskusi santai dengan Dr. Eunsook Chung dari The Sejong Institute dan Dr. Jihyouk Lee dari Overseas Economic Research Institute, yang bahkan memiliki ketertarikan khusus pada batik Indonesia. Puncak eksplorasi industri terlihat di Hyundai Motor Studio Goyang, di mana teknologi kendaraan listrik (EV) dan potensi pasar Indonesia yang terus berkembang menjadi topik utama.
Selama di Korea Selatan, sebuah konsep unik tentang mobilitas terkuak: ‘BMW’. Bukan, ini bukan merek mobil mewah asal Jerman, melainkan singkatan dari Bus, Metro, dan Walk (Berjalan Kaki). Konsep ini benar-benar teruji saat rombongan melakukan perjalanan panjang ke Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon. Dimulai dari Stasiun Seoul, perjalanan dilanjutkan dengan kereta cepat KTX menuju Jinju selama tiga setengah jam, menyuguhkan pemand
