Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, baru-baru ini menyisakan duka mendalam. Satu korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, bencana alam ini telah memicu keprihatinan luas di tengah masyarakat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa data terbaru hingga Selasa malam menunjukkan satu warga di Kabupaten Sigi meninggal dunia. Proses pendataan yang terus berjalan juga mengindikasikan lonjakan signifikan pada jumlah korban luka dan kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah.

Total 38 warga dilaporkan mengalami luka-luka, terdiri dari 25 luka ringan dan 13 luka berat. Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan korban meninggal dunia berasal dari sana. Di Sigi saja, 22 warga mengalami luka ringan dan 13 luka berat, serta 89 Kepala Keluarga (KK) atau 272 jiwa merasakan langsung dampak gempa. Sementara itu, di Parigi Moutong, 21 KK atau 40 jiwa terdampak, dua warga Palu mengalami luka ringan, dan satu warga Poso juga terluka, dengan pendataan masih berlanjut. Secara keseluruhan, sekitar 110 KK atau 312 jiwa dilaporkan terdampak akibat guncangan dahsyat ini.
Tak hanya korban jiwa dan luka, gempa ini juga meninggalkan jejak kerusakan parah pada infrastruktur. Data sementara menunjukkan setidaknya 67 unit rumah warga terdampak, dengan rincian 26 rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan meluas hingga enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi vital penghubung Palu-Sigi-Poso yang amblas.
Abdul Muhari menambahkan, Kabupaten Sigi menjadi titik fokus kerusakan paling parah. Di sana, 47 unit rumah terdampak, dengan 23 di antaranya rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat. Enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu unit UMKM juga tak luput dari dampak gempa di wilayah ini.
Di Kabupaten Poso, lima unit rumah terdampak dan tiga rusak ringan. Parigi Moutong melaporkan 15 unit rumah terdampak. Kota Palu juga tidak luput, dengan Jembatan III mengalami keretakan, satu fasilitas umum, satu hotel, dan satu tempat usaha turut terdampak. Sementara itu, proses pendataan dampak gempa di Kabupaten Donggala masih terus digencarkan.
Untuk mempercepat penanganan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) sigap melakukan kaji cepat dan pendataan di lokasi terdampak. Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, kecamatan, desa, dan instansi terkait terus diperkuat demi memastikan penanganan berjalan optimal. Di Kabupaten Sigi, BPBD bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menggelar rapat koordinasi darurat. Pemerintah Kabupaten Sigi bahkan tengah memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari, dengan pos lapangan terpusat di Kantor Camat Nokilalaki untuk memudahkan koordinasi dan pelayanan.
Di Poso, BPBD dan pemerintah daerah mendirikan tenda darurat di RSUD untuk menjamin layanan kesehatan. Warga bersama aparat kepolisian bahu-membahu membersihkan puing-puing bangunan. Mengingat aktivitas gempa susulan masih terus terjadi, BNPB bersama BMKG dan pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, serta hanya mempercayai informasi resmi yang telah terverifikasi dari sumber-sumber pemerintah dan BMKG.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memantau situasi dan menyampaikan perkembangan penanganan dampak gempa bumi di Sulawesi Tengah secara berkala, seiring berjalannya proses pendataan dan upaya pemulihan di lapangan.
