Jakarta – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam serangkaian saling balas serangan. Insiden ini, yang terjadi di tengah gencatan senjata rapuh dan perundingan panjang untuk mengakhiri konflik tiga bulan, mengancam stabilitas kawasan serta jalur pelayaran vital dunia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa eskalasi terbaru ini diawali oleh aksi militer AS yang menargetkan lokasi strategis di dekat pelabuhan vital di Selat Hormuz. Konflik berkepanjangan ini telah menghambat lalu lintas di selat tersebut dan memicu lonjakan harga energi global.
Serangan Bertubi-tubi AS di Wilayah Iran

Pada Kamis (28/5) pagi, militer AS melancarkan serangan terbaru di wilayah Iran. Targetnya adalah lokasi di sekitar Selat Hormuz yang dinilai menimbulkan ancaman bagi pasukan AS dan lalu lintas komersial. Seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Internationalmedia.co.id bahwa empat drone Iran berhasil ditembak jatuh. Pasukan AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas, yang diduga bersiap meluncurkan drone kelima.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa tindakan ini merupakan serangan kedua dalam tiga hari terakhir. Centcom mengklaim serangan tersebut bersifat "terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata." Sebelumnya, pada Senin, Centcom juga mengonfirmasi serangan "membela diri" di Iran selatan, menargetkan lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menanam ranjau di selat tersebut. Iran mengecam keras serangan AS ini, menyebutnya sebagai "pelanggaran serius terhadap gencatan senjata" dan berjanji tidak akan membiarkan satu pun tindakan permusuhan tanpa balasan.
Iran Membalas dengan Tembakan Peringatan
Tidak tinggal diam, militer Iran segera merespons serangan AS. Laporan dari berbagai media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menyebutkan bahwa pasukan Iran melepaskan tembakan peringatan ke kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa berkoordinasi dengan pasukan keamanan setempat. Empat kapal dilaporkan mengabaikan peringatan awal, sehingga tembakan peringatan dilepaskan, memaksa mereka untuk berbalik arah.
Kantor Berita Tasnim, yang memiliki afiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bahkan melaporkan bahwa Angkatan Laut IRGC menembakkan tembakan peringatan ke arah "kapal tanker minyak Amerika," yang kemudian memaksa kapal tersebut berbalik arah. Tasnim menambahkan, sebagai respons atas tindakan Iran, militer AS kemudian "menembak ke area tandus dekat Bandar Abbas," kota pelabuhan strategis tempat ledakan dilaporkan terjadi pada Kamis pagi waktu setempat. Media Iran menegaskan bahwa serangan ini merupakan balasan atas aksi militer AS yang menargetkan lokasi di sekitar Selat Hormuz.
Ancaman Keras Trump kepada Oman
Di tengah eskalasi militer, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Oman. Dalam rapat kabinet pada Rabu (27/5) waktu AS, Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Menanggapi pertanyaan seorang reporter tentang gagasan Oman dan Iran mengawasi perdagangan di Selat Hormuz, yang menangani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global, Trump menjawab dengan tegas.
"Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkan mereka," ujar Trump, memperingatkan bahwa tidak ada pihak yang akan menguasai jalur maritim krusial tersebut.
Solidaritas Iran untuk Oman dan Kecaman Terhadap AS
Ancaman Trump terhadap Oman segera direspons oleh Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan solidaritas penuh negaranya terhadap Oman. Pernyataan ini disampaikan setelah Trump mengancam akan "meledakkan" Oman jika tidak "berperilaku seperti negara lain" terkait kendali atas Selat Hormuz. Baghaei juga kembali mengutuk keras serangan AS baru-baru ini terhadap wilayah Bandar Abbas di Iran, menegaskan bahwa tindakan tersebut hanya akan memperkeruh situasi di kawasan.
Konflik yang terus memanas ini menempatkan Selat Hormuz di ambang ketidakpastian, dengan implikasi serius bagi keamanan regional dan pasar energi global.
