Internationalmedia.co.id – News melaporkan, gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo (M) 6,8 mengguncang wilayah utara Chili, tepatnya di Antofagasta, pada Selasa, 26 Mei 2026. Guncangan signifikan ini, meskipun kuat, dipastikan tidak memicu potensi tsunami, membawa kelegaan bagi penduduk pesisir. Menurut Pusat Seismologi Nasional Universitas Chili, seperti dilansir Anadolu Agency, gempa terjadi pada pukul 17.52 waktu setempat (2152 GMT). Episentrumnya terletak sekitar 12 kilometer di selatan kota Calama, namun laporan awal dari pihak berwenang menyebutkan tidak ada korban jiwa.
Konfirmasi cepat datang dari Layanan Hidrografi dan Oseanografi Chili (SHOA) yang menegaskan bahwa aktivitas seismik ini tidak menimbulkan ancaman gelombang pasang di sepanjang garis pantai negara tersebut. Keputusan ini didasarkan pada analisis data seismik yang menunjukkan karakteristik gempa tidak berpotensi menghasilkan tsunami. Situasi ini berbeda dengan banyak kejadian gempa besar sebelumnya di Chili yang seringkali diikuti oleh ancaman tsunami yang merusak.

Chili memang dikenal sebagai salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia, sebuah fakta yang tidak terlepas dari lokasinya di sepanjang "Cincin Api Pasifik". Wilayah ini merupakan zona tumbukan lempeng tektonik Nazca dan Amerika Selatan yang terus-menerus, menyebabkan getaran dengan intensitas bervariasi menjadi bagian rutin dari kehidupan di sana. Sejak tahun 1570, Chili telah mencatat sekitar seratus gempa bumi besar, dengan hampir 30 di antaranya melampaui magnitudo 8,0. Data dari Departemen Manajemen Risiko Darurat dan Bencana menunjukkan bahwa gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih tinggi rata-rata melanda negara ini sekali setiap dekade.
Sejarah mencatat beberapa gempa bumi paling signifikan di Chili, termasuk gempa Valdivia pada tahun 1960. Dengan magnitudo mencengangkan 9,5, gempa ini menjadi yang terbesar dalam sejarah yang pernah tercatat, memicu tsunami dahsyat dengan gelombang mencapai 10 meter di pesisir selatan Chili. Gelombang raksasa tersebut bahkan melintasi Samudra Pasifik, menghantam Jepang dengan ketinggian enam meter dan menyebabkan ribuan korban jiwa serta kerusakan parah ribuan mil jauhnya. Perkiraan resmi menyebutkan lebih dari 2.000 orang tewas akibat bencana ini.
Bencana seismik besar terakhir yang dikenal luas di Chili adalah "27F" pada dini hari 27 Februari 2010. Gempa berkekuatan 8,8 ini menjadi yang terkuat kedua dalam sejarah negara itu, dengan episentrum di lepas pantai wilayah Maule. Kurang dari satu jam setelah guncangan awal, tsunami dahsyat melanda pantai, berdampak parah pada wilayah Maule dan Biobio. Meskipun gelombang tsunami mencapai Peru, Ekuador, Kolombia, dan Kosta Rika, kerusakan besar sebagian besar terbatas di Chili. Bencana ini merenggut lebih dari 500 nyawa dan menyebabkan sekitar 50 orang hilang.
Gempa paling mematikan dalam sejarah Chili terjadi pada malam 24 Januari 1939. Gempa berkekuatan 8,3 skala Richter ini, yang dikenal sebagai "Gempa Chillan", terasa dari Valparaiso hingga Temuco. Hampir seluruh kota Chillan hancur, dengan lebih dari separuh bangunannya runtuh, menjadikannya salah satu tragedi terkelam dalam memori kolektif Chili. Peristiwa gempa M 6,8 kali ini, meskipun kuat, menunjukkan bahwa tidak setiap guncangan besar akan berakhir dengan skenario terburuk, berkat sistem peringatan dini dan karakteristik seismik yang tidak memicu tsunami.
