Jakarta – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini memicu kehebohan global setelah memberikan pujian atas tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh para prajuritnya. Aksi nekat tersebut terjadi saat mereka terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia.
Pyongyang dilaporkan telah mengerahkan sekitar 14.000 tentaranya untuk mendukung operasi militer Rusia di Kursk. Namun, menurut penilaian pejabat Korea Selatan, Ukraina, dan negara-negara Barat, kontingen Korea Utara ini mengalami kerugian personel yang masif, dengan lebih dari 6.000 prajuritnya gugur dalam medan laga. Berbagai indikasi, mulai dari laporan intelijen hingga kesaksian para pembelot, menguatkan dugaan bahwa para prajurit Korut memilih untuk mengakhiri hidup mereka, baik melalui peledakan diri atau cara lain, demi menghindari penangkapan oleh pasukan Ukraina.

Di tengah sorotan atas kebijakan kontroversial Kim Jong Un, sejumlah perkembangan penting lainnya juga mendominasi lanskap berita internasional yang dirangkum internationalmedia.co.id pada Rabu (29/4/2026):
Ketegangan AS-Jerman Memuncak Akibat Kritik Iran
Hubungan antara Amerika Serikat dan Jerman kembali diuji setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik pedas terhadap strategi Washington dalam menghadapi Iran. Merz secara blak-blakan menyatakan bahwa Teheran telah "mempermalukan" Washington, sebuah komentar yang sontak memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump. Melalui platform Truth Social, Trump membalas dengan tuduhan bahwa Merz tidak memahami esensi permasalahan dan bahkan dituding mendukung ambisi nuklir Iran. Insiden ini semakin memperlihatkan keretakan di antara dua sekutu transatlantik yang sebelumnya telah berselisih mengenai isu Ukraina dan keamanan global.
Negara Teluk Bersatu Tolak Pungutan di Selat Hormuz
Para pemimpin negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) secara kompak menolak segala bentuk pungutan tarif terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Mereka menegaskan pentingnya navigasi yang aman dan bebas di jalur perairan vital tersebut. Pelayaran melalui Selat Hormuz telah mengalami gangguan signifikan sejak konflik pecah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Pembatasan yang diberlakukan Teheran di selat ini tidak hanya mengguncang pasar energi global tetapi juga memicu kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.
Intelijen AS Selidiki Reaksi Iran Jika Trump Klaim Kemenangan
Badan-badan intelijen Amerika Serikat kini tengah fokus menganalisis potensi respons Iran, seandainya Presiden Donald Trump mengumumkan kemenangan sepihak dalam perang yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Konflik ini, yang telah membebani Gedung Putih secara politik, menjadi subjek analisis mendalam. Menurut dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya dan seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut, komunitas intelijen sedang mengkaji skenario ini bersama sejumlah isu krusial lainnya, atas permintaan pejabat senior pemerintahan AS.
Kapal Tanker Jepang Sukses Lewati Selat Hormuz
Di tengah gejolak regional, sebuah kabar baik datang dari Selat Hormuz. Sebuah kapal tanker Jepang yang mengangkut minyak mentah berhasil melintasi perairan tersebut pada Selasa (28/4) waktu setempat. Ini menandai transit perdana bagi kapal tanker Jepang sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari. Berdasarkan data pelayaran MarineTraffic, kapal tanker jenis VLCC (very large crude carrier) milik perusahaan penyulingan Jepang, Idemitsu, bernama Idemitsu Maru, sukses melewati Selat Hormuz setelah berlayar dari Pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi pada 17 April. Kapal tersebut diketahui telah berlabuh di perairan Saudi sejak akhir Februari, menunggu kesempatan untuk berlayar.
