Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, melontarkan ancaman serius terhadap Lebanon. Katz memperingatkan bahwa "api akan membakar seluruh negeri" di tengah suasana gencatan senjata yang diwarnai saling tuding pelanggaran antara Israel dan kelompok Hizbullah. Ia secara spesifik menuding pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, "sedang bermain api" dengan konsekuensi yang bisa sangat merusak.
Pernyataan keras Katz ini, yang dikutip dari Anadolu Agency dan Middle East Monitor pada Selasa (28/4/2026), muncul hanya dua hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menginstruksikan peningkatan operasi militer terhadap Beirut, ibu kota Lebanon. "Naim Qassem sedang bermain api, dan api itu akan membakar Hizbullah serta seluruh Lebanon," tegas Katz dalam pertemuan dengan Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, sebagaimana dirilis oleh kantor Menhan Israel pada Senin (27/4).

Katz juga menuding pemerintah Lebanon "terus berlindung" di balik kekuatan Hizbullah. Dengan nada peringatan yang lebih tajam, ia menambahkan, "Api akan berkobar dan melahap pohon-pohon cedar Lebanon," merujuk pada simbol nasional negara tersebut. Ia bahkan secara langsung menuduh Presiden Lebanon, Joseph Aoun, "mempertaruhkan masa depan Lebanon" dengan sikapnya.
Menhan Israel itu menegaskan bahwa Tel Aviv tidak akan mentolerir kondisi gencatan senjata di Lebanon yang diiringi oleh serangan berkelanjutan Hizbullah terhadap pasukannya di Lebanon selatan dan wilayah Israel utara. Ia menambahkan, dirinya bersama PM Netanyahu telah memerintahkan pasukan Israel untuk "merespons dengan tembakan dahsyat terhadap Hizbullah" jika terjadi kerusakan, ancaman, atau pelanggaran kedaulatan Israel.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Senin (27/4) pagi menyatakan bahwa gencatan senjata antara Lebanon dan Israel adalah "langkah pertama dan penting" menuju negosiasi lebih lanjut dengan Tel Aviv. Posisi ini, menurut Aoun, telah disampaikan kepada Amerika Serikat (AS) yang bertindak sebagai mediator dalam perundingan antara Beirut dan Tel Aviv.
Perintah Netanyahu untuk meningkatkan serangan terhadap Lebanon sebagai respons atas aksi Hizbullah sendiri telah dikeluarkan pada Sabtu (25/4). Eskalasi ini menambah daftar panjang korban konflik; data resmi pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 2.500 jiwa melayang dan lebih dari 7.750 orang terluka akibat agresi Israel. Sejak 2 Maret lalu, lebih dari 1,6 juta penduduk Lebanon juga terpaksa mengungsi dari berbagai wilayah akibat gempuran militer Tel Aviv.
Gencatan senjata awal selama 10 hari telah diberlakukan antara kedua belah pihak sejak 17 April, yang kemudian diperpanjang selama tiga minggu efektif mulai 24 April, setelah serangkaian pembicaraan yang dimediasi oleh AS. Namun, kesepakatan ini rapuh, dengan Tel Aviv dan Hizbullah saling menuduh melakukan pelanggaran.
Hizbullah sendiri telah melancarkan serangkaian serangan drone yang menargetkan posisi pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah Israel utara. Mereka beralasan tindakan ini adalah balasan atas pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan oleh Tel Aviv. Ironisnya, awal pekan ini, pemimpin Hizbullah Naim Qassem secara tegas menolak negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel, menyebutnya sebagai "dosa besar" yang berpotensi menggoyahkan stabilitas Lebanon.
