Sebuah serangan militan yang brutal mengguncang proyek pertambangan tembaga dan emas di Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, menewaskan sedikitnya sepuluh orang. Insiden tragis ini, yang terjadi baru-baru ini di tengah gejolak separatisme bersenjata, kembali menyoroti kerentanan wilayah tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang melanda kawasan kaya sumber daya namun miskin pembangunan ini.
Sumber dari otoritas setempat mengungkapkan bahwa sekitar empat puluh militan, menggunakan sepeda motor dan kendaraan lainnya, melancarkan serangan mendadak. Mereka menyerbu fasilitas pertambangan milik Pakistan National Resources Private Limited (NRL) yang berlokasi di Darigwan, Distrik Chagai, pada Rabu lalu.

Seorang pejabat pemerintah daerah, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas informasi, mengonfirmasi kepada internationalmedia.co.id bahwa sepuluh nyawa melayang dalam insiden tersebut. Korban terdiri dari tujuh pekerja sipil dan tiga personel keamanan yang bertugas menjaga lokasi. Selain itu, muncul laporan yang belum terverifikasi mengenai penyanderaan beberapa karyawan oleh para penyerang, meskipun detailnya masih samar. Konfirmasi serupa juga datang dari seorang pejabat kepolisian setempat yang enggan disebutkan identitasnya.
Pihak NRL, melalui pernyataan resminya pada Rabu malam, mengakui adanya serangan tersebut. Mereka menyatakan bahwa pasukan keamanan telah bertindak "dengan cepat" untuk mengamankan area yang diserang. Hingga saat ini, belum ada satu pun kelompok yang secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas aksi kekerasan ini. Namun, pola serangan ini tidak asing; kelompok-kelompok separatis etnis lokal telah secara signifikan meningkatkan aktivitas mereka di Balochistan dalam beberapa tahun terakhir, seringkali menargetkan proyek-proyek infrastruktur dan pertambangan.
Balochistan, yang merupakan provinsi terbesar namun juga termiskin di Pakistan, terus-menerus tertinggal dalam berbagai indikator pembangunan, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, hingga pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini memicu kemarahan di kalangan separatis Baloch, yang menuduh pemerintah pusat mengeksploitasi kekayaan gas alam dan mineral provinsi tersebut tanpa memberikan keuntungan yang adil bagi masyarakat lokal.
Tentara Pembebasan Baloch (BLA), yang dikenal sebagai kelompok separatis bersenjata paling aktif di provinsi ini, tercatat melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi pada Februari lalu. Aksi tersebut menelan lebih dari 190 korban jiwa, menunjukkan tingkat kekerasan dan ketegangan yang terus meningkat di Balochistan.
