Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melontarkan ancaman serius untuk menenggelamkan kapal-kapal Amerika Serikat di Selat Hormuz. Peringatan keras ini disampaikan oleh Mohsen Rezaei, penasihat militer yang ditunjuk oleh Mojtaba Khamenei, penasihat militer pemimpin tertinggi Iran. Rezaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan ragu bertindak jika Washington berupaya "mengatur" atau memblokade jalur pelayaran strategis yang krusial bagi pasokan energi global tersebut.
Ancaman Iran ini merupakan balasan terhadap langkah Amerika Serikat yang, atas perintah Presiden Donald Trump, memberlakukan blokade militer di perairan sekitar Selat Hormuz. Blokade AS ini sendiri terjadi setelah Iran sebelumnya memblokir jalur pelayaran strategis tersebut selama enam minggu di tengah konflik bersenjata yang berkecamuk, yang sempat diselingi gencatan senjata rapuh selama dua minggu.

Dalam pernyataannya kepada televisi pemerintah Iran, Rezaei dengan tajam mengkritik peran AS. "Tuan Trump ingin menjadi polisi di Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?" ujarnya, seperti dikutip AFP. Ia melanjutkan dengan peringatan yang lebih mengerikan: "Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal-rudal pertama kami dan telah menciptakan bahaya besar bagi militer AS. Mereka pasti dapat terkena rudal-rudal kami dan kami dapat menghancurkan mereka."
Rezaei, yang dikenal luas sebagai tokoh garis keras, bahkan di kalangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sendiri, tidak segan melontarkan skenario ekstrem. Ia bahkan menyebut akan "hebat" jika AS berani melancarkan invasi darat, karena Iran akan "menyandera ribuan orang dan untuk setiap sandera, kita akan mendapatkan US$ 1 miliar." Secara pribadi, ia juga menegaskan tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata. Rekam jejak Rezaei sebagai veteran terkemuka yang pernah memimpin IRGC dari tahun 1981 hingga 1997 semakin memperkuat bobot pernyataannya.
Blokade laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak awal pekan ini bertujuan menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dan bersedia kembali ke meja perundingan. Perintah blokade dari Presiden Trump ini menyusul kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu, yang seharusnya memfinalisasi gencatan senjata antara kedua negara.
Kegagalan perundingan tersebut disebabkan oleh penolakan Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya dan perselisihan yang tak kunjung usai mengenai pengayaan uranium oleh Teheran. Militer AS pekan ini telah mengonfirmasi bahwa blokade laut tersebut telah berhasil menghentikan sepenuhnya seluruh aktivitas perdagangan maritim Iran, baik yang masuk maupun keluar.

