Internationalmedia.co.id – News – Jalur Gaza kembali bergejolak setelah serangan udara Israel menewaskan tujuh orang di dekat sebuah kamp pengungsi. Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu (11/4/2026) dini hari, menambah daftar panjang korban di tengah gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Dilansir dari laporan AFP yang dikutip oleh Internationalmedia.co.id, Badan Pertahanan Sipil Gaza mengonfirmasi insiden mematikan tersebut. Juru bicara mereka, Mahmoud Bassal, yang juga bertindak sebagai layanan penyelamat di bawah otoritas Hamas, menjelaskan bahwa sebuah drone Israel meluncurkan dua rudal presisi di dekat pos polisi yang berlokasi di kamp pengungsi Al-Bureij.

Bassal menambahkan, selain tujuh korban jiwa, beberapa warga lainnya mengalami luka-luka, dengan empat di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza tengah melaporkan telah menerima enam jenazah dan merawat tujuh pasien luka, di mana empat di antaranya menderita cedera parah pada wajah, dada, dan bagian tubuh lainnya. Sementara itu, Rumah Sakit Al-Awda yang berdekatan juga menerima satu jenazah dan dua korban luka.
Suasana duka menyelimuti Gaza. Gambar-gambar yang dirilis AFP dari Rumah Sakit Al-Aqsa memperlihatkan kerumunan warga Palestina yang berkumpul di sekitar jenazah para pria, terbaring di tanah dan diselimuti kain kafan putih. Para pelayat kemudian mengiringi jenazah dalam prosesi pemakaman menuju Deir el-Balah, sebuah pemandangan pilu yang kerap terjadi di wilayah konflik tersebut.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diteken pada 10 Oktober 2025, Jalur Gaza terus dilanda gelombang kekerasan setiap hari. Baik militer Israel maupun Hamas saling melontarkan tuduhan pelanggaran kesepakatan, menciptakan siklus konflik yang tak berujung.
Di sisi lain, militer Israel mengeluarkan pernyataan yang mengklaim bahwa mereka menargetkan "pasukan bersenjata Hamas". Mereka menuduh militan tersebut telah mendekati apa yang dikenal sebagai Garis Kuning, sebuah batas de facto yang membagi Gaza menjadi dua zona – satu di bawah kendali Israel dan satu lagi di bawah kendali Hamas – dan "berencana untuk melakukan serangan teror terhadap pasukan IDF dalam waktu dekat".
Namun, dalam pernyataan resminya, militer Israel tidak merinci jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut, meninggalkan kesenjangan informasi yang seringkali menjadi ciri khas konflik di wilayah tersebut. Peristiwa ini sekali lagi menyoroti rapuhnya perdamaian di Gaza dan tantangan besar dalam menegakkan gencatan senjata yang berkelanjutan.

