Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran melayangkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Teheran secara tegas meminta agar pasukan AS segera diusir dari wilayah tersebut, atau bersiap menghadapi konsekuensi yang menghancurkan.
Ultimatum ini datang langsung dari markas besar pusat angkatan bersenjata Iran, Khatam al-Anbiya. Juru bicaranya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa jika tuntutan ini tidak dipenuhi, serangan dahsyat akan dilancarkan terhadap aset-aset Amerika dan Israel, serta infrastruktur vital negara-negara yang tetap menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Zolfaghari menjelaskan bahwa peringatan ini merupakan respons terhadap "retorika provokatif" dan ancaman berulang dari Presiden AS terkait penghancuran jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur energi Iran. "Sebagai tanggapan terhadap ancaman tersebut, kami sekali lagi memperingatkan," tegas juru bicara tersebut dalam pernyataannya, seperti dilansir Press TV baru-baru ini.
Ia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak hanya akan menyerang semua aset rezim Israel dan AS, tetapi juga akan menargetkan "sektor-sektor yang lebih penting dan luas dari ibu kota mereka – serta negara-negara tuan rumah dan sekutu AS dan rezim Zionis."
Menurut pernyataan tersebut, serangan yang direncanakan akan berfokus pada pusat-pusat bahan bakar, energi, ekonomi, dan pembangkit listrik di seluruh wilayah dan wilayah pendudukan. Serangan ini disebut akan "lebih parah dan menghancurkan dari sebelumnya."
Dalam pesan khusus yang ditujukan kepada negara-negara regional yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, angkatan bersenjata Iran memberikan ultimatum tegas: "Negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS di wilayah tersebut harus memaksa Amerika untuk menarik diri dari wilayah mereka jika mereka tidak ingin dirugikan."
Ultimatum ini muncul di tengah klaim Iran bahwa koalisi perang AS-Israel telah melancarkan perang terhadap Republik Islam sejak 28 Februari, menargetkan kepemimpinan sipil dan militer tertinggi negara itu, termasuk Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer Israel di wilayah pendudukan, serta pangkalan dan aset-aset militer AS yang tersebar di seluruh wilayah Asia Barat. Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan yang terus membayangi kawasan strategis tersebut.

