SYDNEY – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menghadapi gelombang protes keras dari sebagian jemaah saat menghadiri perayaan Idul Fitri di masjid terbesar di negara tersebut. Kunjungan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan ini berubah menjadi arena kecaman atas sikap pemerintahannya terhadap konflik di Gaza. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, insiden ini menyoroti ketegangan yang membayangi komunitas Muslim di Australia terkait dukungan terhadap Palestina.
Momen khidmat di Masjid Lakemba, Sydney barat, pada Jumat (20/3), mendadak tegang sekitar 15 menit setelah PM Albanese dan Menteri Dalam Negeri Tony Burke bergabung dengan ribuan jemaah. Para pengunjuk rasa, yang menyuarakan kemarahan atas kebijakan pemerintah Australia yang dianggap ‘plin-plan’ terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, mulai menginterupsi acara. Sikap Canberra yang secara bersamaan menyatakan keprihatinan terhadap Palestina, menyerukan gencatan senjata, namun juga menegaskan hak Israel untuk membela diri, telah memicu kemarahan signifikan di kalangan komunitas Muslim dan sebagian Yahudi di Australia, seperti diungkapkan oleh sumber yang dikutip internationalmedia.co.id.

Teriakan ‘Keluar!’ dan tuduhan ‘pendukung genosida’ menggema di antara kerumunan, merujuk pada korban jiwa di Gaza akibat serangan Israel pasca-serangan Hamas pada tahun 2023. Situasi sempat memanas ketika seorang penyelenggara mencoba menenangkan massa, mengingatkan bahwa hari itu adalah ‘Idul Fitri, hari yang penuh sukacita.’ Namun, seruan tersebut tidak sepenuhnya meredakan ketegangan. Sebuah rekaman menunjukkan seorang petugas keamanan terpaksa mengamankan salah satu pengunjuk rasa, menjatuhkannya ke tanah sebelum membawanya keluar. Bahkan saat Albanese dan Burke meninggalkan lokasi, teriakan ‘Memalukan!’ masih terdengar mengiringi langkah mereka.
Menanggapi insiden tersebut, PM Albanese kemudian menyatakan bahwa acara di masjid itu ‘sangat positif.’ Ia berupaya mengecilkan skala protes, mengatakan kepada wartawan, ‘Jika ada beberapa orang yang mencemooh di tengah kerumunan 30.000 orang, itu harus dilihat dari perspektif tersebut.’ Albanese juga menambahkan bahwa komunitas jemaah sendiri telah berupaya menangani beberapa individu yang melakukan protes.
Albanese juga mengaitkan sebagian frustrasi yang muncul dengan keputusan pemerintah bulan ini untuk menetapkan organisasi Islamis Hizbut Tahrir sebagai kelompok kebencian terlarang. Larangan ini diberlakukan berdasarkan undang-undang yang dipicu oleh insiden penembakan massal mematikan di Pantai Bondi, Sydney, pada 14 Desember, menambah lapisan kompleksitas pada ketegangan yang ada.

