Internationalmedia.co.id – News – Konflik bersenjata yang berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan telah menelan korban jiwa yang sangat memilukan, terutama di kalangan anak-anak. Palang Merah Iran mengumumkan bahwa lebih dari 204 anak-anak telah meninggal dunia sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, dengan 53 di antaranya bahkan berusia di bawah lima tahun. Laporan ini mencuat setelah tiga pekan rentetan serangan yang tiada henti.
Mengutip pernyataan Palang Merah Iran yang dilansir AFP pada Jumat (20/3/2026), penargetan anak-anak dan ibu hamil merupakan "pelanggaran serius terhadap martabat manusia," bukan sekadar insiden militer. Selain ratusan anak, dua wanita hamil juga dilaporkan tewas, dan lebih dari 18.000 warga sipil mengalami luka-luka akibat eskalasi konflik ini.

Kerusakan infrastruktur sipil juga mencapai skala yang mengkhawatirkan. Sejak 8 Maret, 498 sekolah, 251 pusat kesehatan, dan 17 pusat Palang Merah mengalami kerusakan parah akibat serangan udara. Total, lebih dari 70.000 unit sipil dilaporkan rusak, menambah daftar panjang penderitaan yang diakibatkan konflik ini.
Pihak Iran secara tegas mendesak lembaga-lembaga internasional, khususnya organisasi yang aktif di bidang hak asasi manusia, untuk tidak berdiam diri menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kemanusiaan.
Perang antara Iran, AS, dan Israel sendiri pecah pada 28 Februari 2026, ketika serangan gabungan AS dan Israel menghantam Teheran. Serangan tersebut bahkan mengakibatkan gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah negara di Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Tiga pekan telah berlalu sejak pecahnya konflik, namun tanda-tanda meredanya tensi belum terlihat. Hingga kini, belum ada pembahasan mengenai kemungkinan gencatan senjata antara ketiga negara yang terlibat, meninggalkan ketidakpastian akan nasib ribuan warga sipil yang terjebak di tengah pusaran perang.

