Internationalmedia.co.id – News – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini mengumumkan bahwa kesepakatan nuklir yang telah lama dinanti dengan Amerika Serikat kini "sudah di depan mata". Pernyataan optimis ini disampaikan pada hari Selasa (24/2), menjelang putaran pembicaraan penting yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Araghchi menekankan bahwa momen ini merupakan "kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama."
Melalui unggahan di platform media sosial X, seperti dilansir kantor berita AFP pada Rabu (25/2/2026), Araghchi menambahkan bahwa tercapainya kesepakatan tersebut "sudah di depan mata, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan." Ia juga menegaskan komitmen negaranya, "Iran dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir." Namun, Araghchi juga secara tegas menyatakan hak Iran untuk "memanfaatkan keuntungan dari teknologi nuklir damai."

"Kami telah membuktikan bahwa kami tidak akan berhenti sampai kami berhasil menjaga kedaulatan kami dengan berani," tambahnya, menggarisbawahi tekad Iran dalam perundingan ini. Teheran dan Washington dijadwalkan untuk melanjutkan putaran ketiga negosiasi nuklir pada hari Kamis (26/2) di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan yang telah dimulai kembali awal bulan ini, menandai upaya serius kedua belah pihak untuk mencapai titik temu.
Pembicaraan penting ini berlangsung di tengah ketegangan yang meningkat, menyusul pengerahan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini semakin diperkeruh oleh ancaman serangan militer yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump, jika kesepakatan nuklir gagal tercapai.
Melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump dengan tegas menyatakan, "jika Amerika Serikat tidak mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai ambisi nuklirnya, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran." Pernyataan ini jelas menunjukkan tekanan serius dari Washington terhadap Teheran.
Menanggapi ancaman tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi eskalasi konflik yang lebih luas jika negaranya diserang. Berbicara dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, pada Selasa (24/2/2026), Gharibabadi menyerukan, "Kami menyerukan kepada semua negara yang berkomitmen pada perdamaian dan keadilan untuk mengambil langkah-langkah yang bermakna, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut."
Gharibabadi juga menegaskan konsekuensi serius dari tindakan militer. "Konsekuensi dari setiap agresi baru tidak akan terbatas pada satu negara — dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut," tegasnya, mengindikasikan bahwa setiap serangan akan memicu respons yang tidak terduga dan melibatkan banyak pihak.

