Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden mematikan baru-baru ini mengguncang perairan Pasifik Timur, ketika pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sebuah kapal yang dicurigai kuat terlibat dalam aktivitas penyelundupan narkoba. Operasi ini mengakibatkan tewasnya tiga individu. Informasi ini dikonfirmasi oleh Komando Selatan AS melalui unggahan di platform media sosial X, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita AFP.
Menurut pernyataan resmi dari Komando Selatan AS, "Satuan Tugas Gabungan Southern Spear" bertanggung jawab atas "serangan kinetik mematikan" ini. Targetnya adalah sebuah kapal yang mereka klaim dioperasikan oleh "Organisasi Teroris" di sepanjang jalur penyelundupan narkoba yang strategis. Pernyataan tersebut secara spesifik menyebutkan bahwa "tiga pria teroris narkoba tewas selama aksi ini," menegaskan sifat mematikan dari operasi tersebut.

Unggahan tersebut juga menyertakan sebuah rekaman video hitam putih yang memperlihatkan detik-detik serangan dari udara. Dalam video itu, kapal target terlihat dibombardir hingga akhirnya dilalap api. Serangan ini bukanlah insiden tunggal; militer Amerika Serikat diketahui telah meningkatkan penargetan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba sejak awal September tahun lalu. Sejak saat itu, kampanye ini telah merenggut nyawa hampir 150 orang dan menghancurkan puluhan kapal.
Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat secara rutin melakukan serangan semacam ini, seringkali tanpa menyajikan bukti konkret yang meyakinkan mengenai aktivitas ilegal kapal-kapal yang menjadi target. Serangan-serangan ini disebut sebagai bagian integral dari kampanye yang, menurut pemerintahan Trump, sangat penting untuk memerangi perdagangan narkoba global.
Lebih jauh, upaya Amerika Serikat dalam memerangi kejahatan transnasional juga mencakup penempatan pasukan angkatan laut di lepas pantai Amerika Selatan, penyitaan kapal-kapal tanker minyak, serta melakukan operasi mendadak yang berujung pada penangkapan pemimpin sayap kiri Venezuela, Nicolas Maduro. Maduro saat ini mendekam di penjara AS, menanti persidangan atas tuduhan terkait narkoba dan senjata, meskipun ia secara konsisten menyatakan tidak bersalah atas semua dakwaan tersebut.

