Permintaan mengejutkan dari pengacara mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks anak yang kontroversial, kepada Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk merilis semua dokumen terkait potensi koneksi intelijen kliennya, menjadi sorotan utama Internationalmedia.co.id – News hari ini. Langkah ini, yang dilaporkan oleh The Washington Post, mengindikasikan upaya serius untuk mengungkap apakah Epstein memiliki hubungan operasional atau afiliasi dengan lembaga intelijen, menambah lapisan misteri pada kasus yang sudah rumit. Di tengah upaya membongkar tabir rahasia tersebut, panggung geopolitik global juga diwarnai sejumlah peristiwa krusial, mulai dari ketegangan di Timur Tengah hingga sikap tegas Amerika Serikat.
Pengacara yang mewakili harta warisan Epstein secara resmi mendesak CIA dan NSA untuk membuka setiap dokumen yang mungkin menunjukkan adanya hubungan operasional, afiliasi, koneksi intelijen, atau informasi intelijen tersembunyi yang melibatkan klien mereka. Permintaan ini muncul di tengah spekulasi panjang mengenai jaringan Epstein yang luas dan potensi keterlibatannya dengan pihak-pihak berpengaruh, termasuk dugaan adanya perlindungan atau pemanfaatan oleh badan intelijen.

Beralih ke Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap aneksasi Tepi Barat oleh Israel. Pernyataan Trump ini disampaikan setelah kabinet keamanan Tel Aviv menyetujui langkah-langkah yang bertujuan memperdalam kontrol atas wilayah pendudukan tersebut. Sikap AS ini selaras dengan gelombang kecaman global yang meluas, datang dari Uni Eropa, Inggris, Arab Saudi, Qatar, hingga Turki. Seorang pejabat Gedung Putih, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengonfirmasi kepada Reuters pada Selasa (10/2/2026) bahwa Trump secara konsisten menentang aneksasi Tepi Barat oleh sekutu dekatnya itu.
Kecaman serupa juga disuarakan keras oleh Arab Saudi dan sejumlah negara Arab serta mayoritas Muslim lainnya, termasuk Indonesia. Dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh para Menteri Luar Negeri pada Senin (9/2) waktu setempat, mereka menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan sah atas wilayah Tepi Barat, sebagaimana dilaporkan oleh Al Arabiya dan Anadolu Agency. Konsensus internasional ini menyoroti penolakan luas terhadap kebijakan ekspansionis Israel.
Ketegangan di Teluk Persia juga terus memanas menyusul terdeteksinya pesawat pengintai maritim P-8A Poseidon milik Angkatan Laut AS yang berulang kali mengudara di dekat Iran pekan ini. Insiden ini terjadi bersamaan dengan pengerahan aset militer AS secara besar-besaran ke Timur Tengah. Sebelumnya, pada akhir Januari, Presiden Trump telah menyatakan bahwa "armada besar" kapal-kapal "sangat besar, sangat kuat" sedang berlayar menuju Iran, meskipun ia berharap aset-aset militer tersebut tidak perlu digunakan dalam serangan terhadap Teheran. Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal penghancur rudal—USS Frank E Petersen Jr, USS Michael Murphy, dan USS Spruance—ke Laut Arab pada akhir Januari, dengan dua di antaranya terdeteksi berlayar dekat Selat Hormuz, menggarisbawahi peningkatan kewaspadaan AS di kawasan tersebut.
Di perbatasan Israel-Lebanon, situasi tetap bergejolak setelah pasukan Israel melancarkan serangan di Lebanon selatan yang menewaskan empat orang, termasuk seorang anak. Serangan ini, yang menurut militer Israel menargetkan anggota kelompok Hizbullah, terjadi dalam dua insiden terpisah. Selain itu, dalam insiden ketiga pada Senin (9/2) waktu setempat, pasukan Israel juga menangkap seorang pejabat dari al-Jamaa al-Islamiya, sebuah kelompok Sunni Lebanon, yang mereka sebut sebagai "teroris senior" dan telah dipindahkan ke Israel untuk diinterogasi. Sejak perang tahun 2024 dengan Hizbullah, Israel telah secara rutin melakukan serangan di Lebanon, yang menurut sumber keamanan Lebanon telah menewaskan sekitar 400 orang pasca-gencatan senjata.
Berbagai peristiwa ini menunjukkan kompleksitas dan volatilitas lanskap geopolitik global, di mana upaya mengungkap rahasia masa lalu beriringan dengan konflik dan ketegangan yang terus membara di berbagai belahan dunia.

