Internationalmedia.co.id – News – Sebuah tawaran mengejutkan datang dari Teheran. Otoritas Iran mengindikasikan kesiapannya untuk mengurangi tingkat pengayaan uraniumnya yang sangat tinggi. Langkah ini akan diambil jika Amerika Serikat (AS) bersedia mencabut seluruh sanksi yang telah lama membelenggu Republik Islam tersebut. Pernyataan ini muncul setelah perundingan nuklir antara kedua belah pihak kembali bergulir pada 6 Februari, menyusul jeda panjang akibat konflik Iran dan Israel tahun lalu.
Pengumuman penting ini, seperti dilansir AFP pada Selasa (10/2/2026), disampaikan oleh Mohammad Eslami, Kepala Badan Energi Atom Iran. Pernyataannya dikutip oleh kantor berita resmi IRNA pada Senin (9/2) waktu setempat. "Sebagai respons atas pertanyaan mengenai kemungkinan pengenceran kadar uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen… Kepala Organisasi Energi Atom menyatakan bahwa hal ini sangat bergantung pada pencabutan semua sanksi sebagai imbalannya," demikian laporan IRNA News Agency. Belum ada kejelasan lebih lanjut apakah pencabutan sanksi yang dimaksud mencakup semua sanksi internasional atau hanya yang diberlakukan oleh AS saja.

Mengencerkan uranium yang diperkaya adalah proses mencampurnya dengan bahan lain untuk menurunkan level pengayaan. Tujuannya agar produk akhir tidak melampaui ambang batas pengayaan yang telah ditetapkan secara internasional. Sebelum fasilitas nuklir Teheran dibombardir oleh AS dan Israel pada Juni tahun lalu, Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen. Angka ini jauh melampaui batas 3,67 persen yang diizinkan berdasarkan perjanjian nuklir 2015, yang kini telah dianggap tidak berlaku lagi.
Negara-negara Barat, di bawah kepemimpinan AS, telah lama menaruh kecurigaan bahwa Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir di balik program pengayaan uraniumnya. Tuduhan ini selalu dibantah keras oleh Teheran, yang bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.
Menurut badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Iran adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki senjata nuklir namun memperkaya uranium hingga 60 persen. Keberadaan pasokan uranium yang sangat diperkaya seberat 400 kilogram, yang dimiliki Iran sebelum perang melawan Israel meletus tahun lalu, kini tidak diketahui secara pasti. Para inspektur nuklir PBB terakhir kali mencatat lokasinya pada 10 Juni 2025. Jumlah pasokan tersebut diperkirakan cukup untuk memproduksi lebih dari sembilan bom nuklir, jika pengayaan uranium mencapai 90 persen.
Di masa kepemimpinannya, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyerukan agar Iran dikenai larangan total untuk pengayaan uranium. Kondisi ini secara konsisten ditolak oleh Teheran, yang menganggapnya sangat tidak menguntungkan dibandingkan perjanjian nuklir 2015. Iran sendiri mempertahankan haknya untuk memiliki program nuklir sipil, sesuai dengan ketentuan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang telah ditandatangani oleh Teheran dan 190 negara lainnya.
Dalam perundingan nuklir terbaru yang berlangsung di Oman pada 6 Februari lalu, seorang diplomat regional yang berbicara kepada Reuters mengungkapkan bahwa Iran menolak permintaan AS untuk menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya. Namun, diplomat tersebut menambahkan bahwa Iran bersedia untuk membahas "tingkat dan kemurnian" pengayaan uranium atau pembentukan konsorsium regional sebagai alternatif.
Untuk informasi terkini lainnya, saksikan terus Internationalmedia.co.id. (nvc/ita)

