Internationalmedia.co.id – News – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Israel, menuduhnya menerapkan "doktrin dominasi" yang kontroversial. Pernyataan ini muncul sehari setelah Teheran menyelesaikan putaran perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Oman. Araghchi menyebut doktrin tersebut memungkinkan Tel Aviv untuk memperluas kekuatan militernya tanpa batas, sementara pada saat yang sama menekan negara-negara lain untuk melucuti senjata.
Berbicara di Al Jazeera Forum yang digelar di Qatar pada Sabtu (7/2/2026), Araghchi menjelaskan bahwa "proyek ekspansionis Israel menuntut negara-negara tetangga dilemahkan: secara militer, secara teknologi, secara ekonomi, dan secara sosial." Ia menambahkan, "Di bawah proyek ini, Israel bebas untuk memperluas persenjataan militernya tanpa batas… Namun negara-negara lainnya dituntut untuk melucuti senjata. Negara-negara lainnya ditekan untuk mengurangi kapasitas pertahanan. Negara-negara lainnya dihukum karena kemajuan ilmiah." Araghchi secara tegas menyebutnya sebagai "doktrin dominasi."

Kritik ini disampaikan menyusul perundingan nuklir antara Iran dan AS yang dimediasi Oman pada Jumat (6/2). Pertemuan tersebut menandai perundingan nuklir pertama sejak pembicaraan sebelumnya gagal total menyusul serangan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu, yang memicu konflik bersenjata selama 12 hari yang intens.
Selama konflik tersebut, Israel menargetkan pejabat militer senior Iran, ilmuwan nuklir terkemuka, situs-situs nuklir strategis, dan bahkan area permukiman. Amerika Serikat juga terlibat dengan mengebom fasilitas nuklir Iran. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap target di Iran serta pangkalan militer terbesar AS di Qatar.
Dalam perundingan tidak langsung yang berlangsung di Oman, Araghchi, yang memimpin delegasi Iran, menggambarkan suasana sebagai "sangat positif." Ia menegaskan bahwa fokus utama perundingan adalah isu nuklir, tanpa menyentuh topik lain. Washington, yang kabarnya didorong oleh Israel, berupaya memasukkan pembahasan program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan. Namun, Iran secara konsisten menolak perluasan cakupan negosiasi di luar masalah nuklir.
Araghchi menyatakan bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk melanjutkan perundingan. Namun, ia juga memberikan peringatan keras kepada AS untuk menghindari "ancaman dan tekanan" jika ingin pembicaraan konstruktif ini dapat berlanjut.

