Internationalmedia.co.id – News – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini menyampaikan pujian hangat kepada tentara Inggris, sebuah perubahan nada yang signifikan setelah komentarnya sebelumnya memicu gelombang kemarahan di Britania Raya. Pernyataan kontroversial Trump mengenai peran pasukan NATO di Afghanistan sempat menuai kritik tajam, namun kini ia memilih untuk menyanjung keberanian prajurit Inggris.
Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network di Davos, Swiss, Trump menyuarakan keraguannya bahwa 31 negara anggota NATO lainnya akan mendukung AS jika diminta. Ia bahkan menyebut pasukan dari negara-negara tersebut "agak menjauh dari garis depan" di Afghanistan. Komentar ini segera memicu kemarahan di Inggris, terutama dari keluarga prajurit yang tewas atau terluka parah dalam konflik berkepanjangan tersebut.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, merespons pernyataan Trump dengan keras, menyebutnya "menghina dan terus terang sangat memalukan." Menteri Kesehatan Stephen Kinnock juga menegaskan bahwa ucapan Trump "jelas salah" dan "sangat mengecewakan." Kinnock mengingatkan bahwa Pasal 5 NATO diaktifkan untuk membantu AS setelah serangan 11 September, dengan banyak tentara Inggris dan sekutu Eropa lainnya mengorbankan nyawa mereka dalam misi yang dipimpin Amerika di Afghanistan dan Irak.
Namun, setelah berbicara dengan PM Starmer, Trump mengubah nadanya secara drastis. Melalui platform Truth Social, ia menyatakan, "Para tentara hebat dan sangat berani dari Britania Raya akan selalu bersama Amerika Serikat." Ia juga menyebut 457 prajurit Inggris yang gugur di Afghanistan serta mereka yang terluka parah sebagai "di antara para pejuang terbesar sepanjang masa." Trump menekankan bahwa ikatan antara militer AS dan Inggris "terlalu kuat untuk dipatahkan," dan memuji Inggris sebagai negara "dengan hati dan jiwa yang luar biasa, tidak ada duanya (kecuali Amerika Serikat)."
Meskipun demikian, Trump tidak secara langsung meminta maaf atau mencabut komentarnya, seperti yang disarankan oleh PM Starmer. Kantor Perdana Menteri di 10 Downing Street mengonfirmasi bahwa isu keberanian dan kepahlawanan tentara Inggris dan Amerika yang bertempur berdampingan di Afghanistan, serta pengorbanan mereka, dibahas dalam percakapan telepon antara keduanya, bersama topik lain seperti perang di Ukraina dan keamanan di kawasan Arktik.
Pernyataan awal Trump dinilai bertentangan dengan fakta sejarah. Pada Oktober 2001, hampir sebulan setelah serangan 11 September, AS memimpin koalisi internasional di Afghanistan untuk menghancurkan al-Qaeda dan para pelindungnya dari Taliban. Puluhan negara, termasuk anggota NATO, turut serta, dengan Inggris menjadi kontingen terbesar kedua setelah AS, mengerahkan lebih dari 150.000 tentaranya selama bertahun-tahun. Pemerintah Italia dan Prancis juga menyuarakan ketidaksetujuan mereka, menyebut komentar Trump "tidak dapat diterima."
Perubahan sikap Trump ini menjadi sorotan, menunjukkan dinamika kompleks dalam hubungan internasional dan aliansi militer di tengah pernyataan kontroversial dari tokoh politik global.

