Internationalmedia.co.id – News – Sejumlah agen federal yang bertugas dalam operasi penegakan imigrasi di Minneapolis akan mulai meninggalkan kota ini hari ini. Keputusan ini menyusul insiden penembakan fatal yang menewaskan seorang warga negara AS, memicu gelombang protes dan kecaman dari berbagai pihak. Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, menyambut baik langkah ini dan berharap seluruh agen federal yang terlibat dalam operasi serupa segera menyusul.
"Beberapa agen federal akan mulai meninggalkan wilayah ini besok," kata Frey, dikutip dari AFP, Selasa (27/1). Ia menegaskan akan terus mendesak agar semua pihak yang terlibat dalam operasi tersebut angkat kaki dari Minneapolis. Frey juga sempat berbicara dengan Presiden Trump, yang menurutnya setuju bahwa "situasi saat ini tidak bisa terus berlanjut."

Insiden yang menjadi pemicu adalah penembakan Alex Pretti (37), seorang warga negara AS, oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) pada Sabtu (24/1) waktu setempat. Peristiwa tragis ini memicu kemarahan publik dan kecaman keras dari para pemimpin lokal.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS menggambarkan insiden tersebut sebagai sebuah serangan, menyatakan bahwa agen patroli perbatasan melepaskan tembakan untuk membela diri. Menurut versi DHS, Pretti mendekat dengan pistol dan secara agresif melawan upaya untuk melucuti senjatanya.
Namun, narasi ini dibantah oleh video saksi mata yang telah diverifikasi oleh Reuters. Rekaman tersebut menunjukkan Pretti memegang telepon di tangannya, bukan senjata api. Ia terlihat berusaha membantu pengunjuk rasa lain yang didorong jatuh oleh agen. Video memperlihatkan Pretti merekam agen federal mendorong seorang wanita dan orang lain ke tanah. Saat ia bergerak di antara agen dan para wanita, Pretti mengangkat lengan kirinya untuk melindungi diri dan berbalik ketika agen menyemprotnya dengan semprotan merica.
Ketika Pretti berbalik dan mencoba membantu wanita yang terjatuh, agen imigrasi terus menyemprotnya. Agen kemudian menarik Pretti menjauh dari wanita tersebut, dan ia tampak dipaksa berlutut oleh beberapa agen. Salah satu agen terlihat menarik sesuatu dari pinggang Pretti sebelum cepat menjauh. Tak lama kemudian, seorang petugas menembakkan empat tembakan ke punggung Pretti secara beruntun. Beberapa tembakan lagi terdengar dari agen lain. Setelah itu, semua agen mundur dari jasad Pretti.
Beberapa agen terlihat memberikan bantuan medis kepada Pretti yang terbaring di tanah, sementara agen lain mencegah warga mendekat.
Penembakan ini memicu ratusan massa menggelar demonstrasi, menghadapi agen bersenjata dan bertopeng yang menggunakan gas air mata dan granat kejut. Protes serupa juga meluas ke New York, Washington DC, dan San Francisco. Insiden ini semakin memperparah ketegangan antara pejabat negara bagian dan federal AS, yang sebelumnya juga berselisih terkait penembakan warga negara AS lainnya, Renee Good, pada 7 Januari. Pejabat lokal menolak partisipasi dalam penyelidikan insiden tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut, saksikan liputan eksklusif internationalmedia.co.id.
