Minneapolis, Amerika Serikat, kembali dilanda gelombang kerusuhan pasca insiden penembakan fatal oleh petugas imigrasi terhadap warga sipil. Dalam perkembangan terbaru, Gedung Putih secara tegas menunjuk Partai Demokrat sebagai biang keladi di balik gejolak tersebut. Laporan Internationalmedia.co.id – News pada Selasa (27/1/2026) mengungkapkan tudingan serius dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Trump dan seluruh jajaran Gedung Putih tidak menginginkan adanya korban luka atau tewas di jalanan Amerika. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Alex Pretti, warga yang ditembak petugas imigrasi pada Sabtu (24/1). "Kami berduka untuk orang tuanya. Sebagai seorang ibu, saya tidak dapat membayangkan kehilangan nyawa," ujar Leavitt, seperti dikutip internationalmedia.co.id.

Namun, di balik pernyataan belasungkawa tersebut, Gedung Putih dengan cepat mengarahkan jarinya kepada Partai Demokrat. Leavitt menegaskan bahwa tragedi ini merupakan "akibat dari perlawanan yang disengaja dan bermusuhan oleh para pemimpin Demokrat di Minnesota," terutama setelah Presiden Trump mengerahkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) secara besar-besaran di wilayah tersebut.
Secara spesifik, Gedung Putih menyalahkan Gubernur Minnesota Tim Walz dan Walikota Minneapolis Jacob Frey, yang keduanya merupakan kader Partai Demokrat. Mereka dituding telah menyebarkan kebohongan dan propaganda terkait kinerja petugas penegak hukum federal, khususnya dalam upaya penyingkiran imigran ilegal di AS. Tuduhan ini mengindikasikan adanya upaya sistematis dari politisi Demokrat untuk menghambat kerja aparat imigrasi.
Situasi ini memperlihatkan ketegangan politik yang memanas antara pemerintahan Trump dan Partai Demokrat, dengan kerusuhan di Minneapolis menjadi medan pertempuran baru dalam narasi imigrasi dan penegakan hukum di Amerika Serikat.
