Kabar penting datang dari Timur Tengah. Pemerintah Israel secara resmi menyatakan bahwa tidak ada lagi warganya yang menjadi tawanan Hamas di Jalur Gaza. Menyusul pengumuman ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump segera melontarkan permintaan tegas: Hamas harus melucuti senjatanya. Demikian dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id.
Pemulangan jenazah Ran Gvili, yang diidentifikasi sebagai sandera terakhir yang ditahan di Gaza, menjadi penutup babak panjang pencarian. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dengan kembalinya seluruh sandera, baik yang hidup maupun yang gugur, Israel telah menuntaskan misi moral dan etisnya. Pernyataan ini disampaikan Netanyahu di Knesset pada Senin (26/1).

Menariknya, Presiden Trump sempat memberikan apresiasi atas peran Hamas dalam proses penemuan jenazah Gvili. "Mereka bekerja sangat keras untuk mendapatkan kembali jenazah itu. Mereka bekerja sama dengan Israel dalam hal ini. Anda bisa membayangkan betapa sulitnya," ujar Trump, seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (27/1/2026). Ia menambahkan, "Itu pemandangan yang mengerikan."
Namun, pujian tersebut segera diikuti dengan desakan keras. Trump kini mendorong kelompok tersebut untuk segera melucuti senjatanya. Menurutnya, pelucutan senjata Hamas merupakan langkah krusial untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Gaza. "Sekarang kita harus melucuti senjata Hamas seperti yang mereka janjikan," tegas Trump.
Sebelumnya, tentara Israel telah mengumumkan penemuan jenazah Ran Gvili, yang selama ini menjadi sandera terakhir di Gaza. Proses pemulangan jenazah ini, serta sandera lainnya, disebut militer Israel (IDF) sebagai hasil dari "dua tahun pertempuran sengit" yang mewakili janji antara IDF dan warga Negara Israel untuk tidak pernah meninggalkan siapa pun.
