Di tengah gelombang demonstrasi yang tak kunjung mereda di Iran, Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir dari Dinasti Shah yang digulingkan pada Revolusi 1979, secara mendesak meminta intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui media sosial, Pahlavi menyerukan dukungan dan tindakan segera dari pemimpin AS tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News.
Berdomisili di wilayah Washington, Pahlavi tidak merinci bentuk intervensi spesifik yang ia harapkan dari Washington. Namun, ia menekankan urgensi situasi dengan menyoroti pemadaman internet berskala nasional dan ancaman kekerasan yang dihadapi para demonstran. "Bapak Presiden, ini adalah seruan mendesak untuk perhatian, dukungan, dan tindakan Anda," tulis Pahlavi. "Mohon bersiaplah untuk turun tangan membantu rakyat Iran," tambahnya, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Pahlavi juga mengklaim telah menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan demi memperjuangkan kebebasan dan menghadapi pasukan keamanan dengan jumlah yang superior. "Tadi malam mereka melakukannya," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ancaman Trump terhadap "rezim kriminal" tersebut telah berhasil menahan "para preman rezim." Namun, Pahlavi menegaskan, "Waktu sangat penting. Rakyat akan kembali turun ke jalan dalam satu jam. Saya meminta Anda untuk membantu."
Lebih lanjut, Pahlavi mendesak warga Iran untuk mengarahkan protes mereka menuju tujuan yang lebih strategis: merebut dan menguasai pusat-pusat kota. "Tujuan kita bukan lagi hanya turun ke jalan. Tujuannya adalah bersiap untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota," jelas Pahlavi dalam sebuah pesan video di media sosial, seraya mendorong demonstrasi lebih lanjut pada akhir pekan. Ia juga menyatakan kesiapannya untuk "kembali ke tanah air saya" dalam waktu yang ia sebut "sangat dekat."
Sebagai putra mendiang Mohammad Reza Shah dan Permaisuri Farah Pahlavi, raja Iran yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi telah lama menjadi figur oposisi. Dinasti Pahlavi sendiri berkuasa dari tahun 1925 hingga 1979. Secara terbuka, Reza Pahlavi mendukung serangan Israel terhadap Iran, berkolaborasi dengan Amerika Serikat, dengan tujuan menumbangkan kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Ia dan keluarganya kini dianggap sebagai musuh utama rezim Khamenei, dan Pahlavi secara blak-blakan menyerukan penggulingan rezim di Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sendiri memiliki rekam jejak terkait Iran. Tahun lalu, ia memerintahkan pengeboman situs-situs nuklir Iran dalam operasi bersama Israel. Kini, Trump kembali mengancam tindakan militer jika otoritas Iran terus melakukan kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa yang turun ke jalan, sebuah peringatan yang sejalan dengan seruan Pahlavi.

