Internationalmedia.co.id – News, Jakarta – Sebuah secercah harapan muncul di tengah krisis kemanusiaan yang mencekik Jalur Gaza. Rumah Sakit (RS) Al-Awda, yang berlokasi di distrik Nuseirat, Gaza Tengah, kembali membuka pintunya untuk melayani pasien setelah sempat menghentikan sebagian besar operasionalnya akibat kelangkaan bahan bakar. Namun, kabar baik ini dibayangi oleh kenyataan pahit: pasokan solar yang baru diterima hanya cukup untuk dua hari ke depan, meninggalkan fasilitas medis vital ini dalam kondisi yang sangat rentan.
Sebelumnya, RS Al-Awda terpaksa membatasi layanannya secara drastis akibat krisis bahan bakar yang melumpuhkan generator listriknya. Ahmed Mehanna, seorang pejabat pengelola RS Al-Awda, menjelaskan bahwa pada saat itu, hanya departemen esensial seperti unit gawat darurat, ruang bersalin, dan pediatri yang dapat terus berfungsi. "Sebagian besar layanan sementara dihentikan karena kekurangan bahan bakar," ujarnya.

Kini, berkat pasokan 2.500 liter solar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang tiba pada Jumat malam, rumah sakit tersebut dapat kembali merawat sekitar 60 pasien rawat inap dan melayani hampir 1.000 warga setiap hari. Namun, Mehanna mengingatkan bahwa jumlah bahan bakar tersebut "hanya akan bertahan dua setengah hari." Ia menambahkan bahwa janji pasokan tambahan pada Minggu depan menjadi satu-satunya harapan untuk menjaga operasional.
Dalam situasi normal, RS Al-Awda membutuhkan antara 1.000 hingga 1.200 liter solar setiap hari. Namun, sebelum bantuan WHO tiba, ketersediaan bahan bakar mereka hanya sekitar 800 liter. Mohammed Salha, Pelaksana Tugas Direktur RS Al-Awda, secara tegas menuding otoritas Israel sengaja membatasi akses bahan bakar untuk fasilitas kesehatan lokal di Gaza. "Kami mengetuk semua pintu agar bisa terus memberikan layanan, tetapi sementara pendudukan memberikan bahan bakar untuk lembaga internasional, mereka membatasinya untuk fasilitas kesehatan lokal seperti Al-Awda," kata Salha kepada AFP.
Dampak langsung dari krisis ini dirasakan oleh warga sipil. Khitam Ayada (30), seorang pengungsi di Nuseirat, menceritakan pengalamannya saat mengalami sakit ginjal. Ia pergi ke RS Al-Awda namun ditolak karena "tidak ada listrik untuk melakukan X-ray… dan mereka tidak bisa merawat saya." Ayada menyimpulkan dengan getir, "Kami kekurangan segalanya dalam hidup, bahkan layanan medis paling dasar."
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza masih jauh dari kata usai. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa volume bantuan yang berhasil masuk ke Gaza jauh di bawah target yang disepakati, hanya berkisar 100 hingga 300 truk per hari dari target 600 truk. Ironisnya, sebagian besar bantuan yang masuk adalah barang komersial yang tetap sulit dijangkau oleh mayoritas dari 2,2 juta penduduk Gaza.
Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling parah terdampak konflik berkepanjangan ini. Selama pertempuran, Israel berulang kali menargetkan fasilitas kesehatan di Gaza, dengan dalih bahwa Hamas mengoperasikan pusat komando di bawahnya – sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh kelompok militan tersebut. Organisasi medis internasional seperti Doctors Without Borders kini mengelola sekitar sepertiga dari 2.300 tempat tidur rumah sakit di Gaza, sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional mendukung lima pusat stabilisasi untuk anak-anak yang mengalami malnutrisi parah. Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.221 orang, sebagian besar warga sipil.
