Ambisi Donald Trump untuk menguasai Greenland kembali memanas, memicu ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat, Denmark, dan wilayah semi-otonom tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, mantan Presiden AS itu berulang kali menegaskan bahwa kepemilikan atas Greenland adalah kebutuhan mutlak demi keamanan nasional AS, bukan sekadar untuk sumber daya alamnya.
Keinginan Trump untuk mencaplok Greenland bukanlah hal baru. Sejak tahun lalu, bahkan saat masih menjadi presiden terpilih, ia sudah menyatakan pentingnya wilayah Arktik yang luas itu bagi kepentingan Amerika. Dalam pernyataan terbarunya di Truth Social, Trump menulis, "Demi tujuan Keamanan Nasional dan Kebebasan di seluruh Dunia, Amerika Serikat merasa bahwa kepemilikan dan kendali atas Greenland merupakan kebutuhan mutlak."

Ia juga kembali menegaskan ambisinya dalam wawancara dengan NBC pada Minggu (30/3), dengan keyakinan penuh, "Kami akan mendapatkan Greenland. Ya, 100 persen." Setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump semakin gencar menyuarakan kebutuhan AS atas Greenland, bahkan tidak menampik kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasainya.
Ketegangan semakin memuncak dengan kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke pangkalan militer AS di Greenland. Vance menuai kritik setelah menyebut Denmark "tidak melakukan pekerjaan yang baik untuk rakyat Greenland." Puncaknya, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland pada Minggu (22/12), yang langsung berjanji menjadikan wilayah tersebut "bagian dari AS."
Langkah ini sontak memicu kemarahan dari Denmark. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyatakan sangat marah dan menyebut pengangkatan Landry "sama sekali tidak dapat diterima." Duta Besar AS segera dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Denmark untuk dimintai penjelasan, di mana Rasmussen menegaskan "garis merah" dan menuntut penghormatan terhadap kedaulatan Denmark.
Perdana Menteri Greenland yang baru, Jens-Frederik Nielsen, dengan tegas menolak rencana tersebut. Melalui unggahan Facebook pada Minggu (30/3), Nielsen menyatakan, "Amerika Serikat tidak akan mendapatkan Greenland." Ia menekankan bahwa masa depan Greenland ada di tangan rakyatnya sendiri: "Kami tidak menjadi milik orang lain. Kami memutuskan masa depan kami sendiri."
Senada, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan PM Greenland Jens-Frederik Nielsen dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyat Greenland. "Anda tidak dapat mencaplok negara lain," kata mereka, menuntut "penghormatan terhadap integritas teritorial bersama kami."
Trump sendiri menjelaskan alasannya bukan untuk mineral, melainkan murni demi keamanan nasional. "Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana," ujarnya dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, AS pada Senin (22/12). "Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya." Dengan Landry yang "ingin memimpin serangan," ketegangan di wilayah Arktik ini diperkirakan akan terus berlanjut.
