Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Presiden Nicolas Maduro melontarkan balasan tajam terhadap ancaman yang dilayangkan oleh Presiden AS Donald Trump. Maduro secara tegas meminta Trump untuk lebih memprioritaskan urusan domestik negaranya sendiri. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi retorika antara kedua pemimpin.
Pernyataan Maduro ini muncul tak lama setelah Trump mengeluarkan perintah kepada Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade terhadap kekayaan minyak Venezuela. Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Maduro menekankan bahwa fokus utama Trump seharusnya adalah masalah internal Amerika Serikat, bukan terus-menerus melancarkan ancaman terhadap Caracas. "Presiden Trump akan lebih baik mengurus negaranya dan dunia. Dia akan lebih baik di negaranya sendiri dalam menangani masalah ekonomi dan sosial, dan dia akan lebih baik di dunia jika dia mengurusi urusan negaranya sendiri," demikian kutipan Maduro yang disiarkan oleh AFP, sebagaimana dikutip oleh internationalmedia.co.id.

Saling serang verbal antara kedua kepala negara ini semakin memperkeruh hubungan bilateral yang memang sudah tegang. Sebelumnya, Trump sempat menyarankan bahwa akan ‘bijaksana’ jika Presiden Venezuela Nicolas Maduro memutuskan untuk mundur dari jabatannya.
Ketika ditanya apakah ancaman Washington bertujuan untuk memaksa Maduro lengser setelah 12 tahun berkuasa, Trump menjawab, "Itu terserah dia, apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan bijaksana baginya untuk melakukan itu." Ia menambahkan peringatan keras, "Jika dia ingin melakukan sesuatu, jika dia bersikap keras, itu akan menjadi terakhir kalinya dia bisa bersikap keras."
Sejak bulan September, militer AS telah meningkatkan operasi di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, menargetkan kapal-kapal yang mereka klaim terlibat dalam penyelundupan narkoba. Operasi ini dilaporkan telah mengakibatkan lebih dari 100 kematian, dengan beberapa korban diidentifikasi sebagai nelayan. Meskipun demikian, Washington bersikeras bahwa tindakan mereka di perairan dekat Venezuela adalah bagian dari upaya global untuk memberantas perdagangan narkoba.
Pada pertengahan Desember, Trump secara resmi mengumumkan blokade terhadap ‘kapal-kapal minyak yang dikenai sanksi’ yang berlayar menuju atau dari Venezuela. Ia menuduh pemerintahan Maduro di Caracas menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai ‘terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan’. Lebih lanjut, Trump mengklaim Venezuela telah ‘mengambil semua minyak kami’, sebuah pernyataan yang diyakini merujuk pada nasionalisasi sektor perminyakan negara tersebut, seraya menegaskan ‘kami menginginkannya kembali’. Tuduhan ini sontak memicu kemarahan dari pemerintah Venezuela.
Menanggapi serangkaian tuduhan dan tindakan tersebut, Venezuela balik menuduh Washington berupaya melakukan perubahan rezim di negara mereka. Caracas juga secara terang-terangan menyebut tindakan Washington sebagai ‘pembajakan internasional’, menggarisbawahi ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan AS.
Ketegangan yang terus meningkat ini mengindikasikan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela masih jauh dari kata damai, dengan prospek konflik diplomatik yang semakin mendalam.
