Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras, menyatakan akan mengembalikan Iran ke "zaman batu." Ancaman ini segera dibalas oleh Teheran dengan sumpah akan melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat terhadap AS dan Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa retorika agresif ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang sudah berlangsung lama.
Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (1/4) malam waktu setempat, Trump mengisyaratkan adanya serangan militer dalam waktu dekat. "Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan," demikian pernyataan Trump, mengutip laporan CNN. Ia melanjutkan dengan ancaman yang memicu kontroversi: "Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, di mana menurutnya mereka seharusnya berada."

Ini adalah kali pertama Trump secara eksplisit menggunakan frasa ‘zaman batu’ terkait konflik dengan Iran. Meskipun demikian, ia mengklaim bahwa perubahan rezim bukanlah tujuan utama AS. "Perubahan rezim bukanlah tujuan kita. Kita tidak pernah mengatakan perubahan rezim, tetapi perubahan rezim telah terjadi karena kematian semua pemimpin asli mereka. Mereka semua sudah mati," jelas Trump, sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan tentang definisi "perubahan rezim" yang ia maksud.
Militer Iran tidak tinggal diam. Komando operasi militer Iran, Khatam Al-Anbiya, merespons ancaman Trump dengan janji pembalasan yang mengerikan. "Dengan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Kuasa, perang ini akan berlanjut hingga kalian dipermalukan, dihina, dan menyesalinya secara permanen dan pasti, dan menyerah," demikian pernyataan terbaru dari Khatam Al-Anbiya, seperti dilansir AFP pada Kamis (2/4).
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa Iran akan melancarkan serangan balasan yang lebih luas dan destruktif. "Nantikan tindakan kami yang lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif," tegas mereka, menandakan kesiapan Iran untuk meningkatkan konfrontasi secara signifikan.
Ketegangan ini bukan hal baru dalam hubungan AS-Iran. Sebelumnya, Presiden Trump telah beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang kontradiktif mengenai konflik ini. Ia pernah mengklaim kemenangan perang, kemudian meminta bantuan NATO untuk membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran, lalu sesumbar tidak membutuhkan bantuan tersebut. Trump juga sempat mengklaim adanya negosiasi dengan Iran, bahkan menyebut Iran meminta gencatan senjata. Semua ini menunjukkan dinamika yang tidak stabil dan penuh gejolak dalam kebijakan AS terhadap Teheran.

