Internationalmedia.co.id – News – Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan rencana penarikan sisa pasukannya dari Yaman. Langkah ini diambil setelah Arab Saudi mengeluarkan ultimatum 24 jam agar UEA menarik diri, di tengah eskalasi ketegangan menyusul serangan signifikan oleh kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC).
Kementerian Pertahanan UEA, melalui laporan AFP, menyatakan bahwa penarikan "tim anti-terorisme" ini dilakukan atas kemauan sendiri. UEA dengan tegas membantah keterlibatannya dalam serangan separatis tersebut, serta menolak tuduhan mendukung STC.

Ketegangan memuncak ketika Arab Saudi melancarkan serangan terhadap pengiriman logistik milik UEA di pelabuhan Mukalla. Saudi menuduh kargo tersebut membawa persenjataan untuk kelompok separatis. Namun, UEA membantah keras klaim ini, menegaskan bahwa pengiriman tersebut hanya berisi kendaraan yang ditujukan untuk pasukannya sendiri.
Rekaman visual yang diperoleh AFP dari lokasi kejadian di pelabuhan Mukalla memperlihatkan puluhan kendaraan militer dan truk pikap yang terparkir, beberapa di antaranya hangus dan mengeluarkan asap, dengan para pekerja berupaya memadamkan api. Insiden ini terjadi setelah pasukan STC, yang dituding didukung UEA, bergerak melintasi provinsi Hadramawt dan Mahra.
Abu Dhabi, yang dituding sebagai pendukung utama STC, kembali membantah tuduhan tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa pengiriman yang dimaksudkan untuk Mukalla semata-mata berisi kendaraan untuk kebutuhan pasukannya sendiri, bukan untuk pihak Yaman lainnya.
"UEA mengutuk klaim yang dibuat mengenai pemberian tekanan atau arahan kepada pihak Yaman mana pun untuk melakukan operasi militer," demikian pernyataan resmi dari UEA. Pernyataan itu menambahkan, "Pengiriman yang dimaksud tidak berisi senjata apa pun, dan kendaraan yang dibongkar tidak ditujukan untuk pihak Yaman mana pun."
Meskipun ketegangan memuncak, baik UEA maupun Arab Saudi mengisyaratkan kesediaan untuk berdialog. Seorang sumber yang dekat dengan koalisi militer Saudi mengatakan kepada AFP bahwa "diplomasi masih menjadi pilihan untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut."
Namun, STC tetap pada pendiriannya yang menentang, bersikeras bahwa "tidak ada pemikiran untuk mundur" dari posisi strategis yang baru saja mereka kuasai. Anwar Al-Tamimi, juru bicara STC, menegaskan kepada AFP, "Tidak masuk akal jika pemilik tanah diminta meninggalkan tanahnya sendiri. Situasi ini menuntut kami untuk tetap bertahan dan memperkuat pertahanan."
