Internationalmedia.co.id – News – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, dilaporkan masih berada pada kategori berbahaya akibat masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan, kondisi ini menyebabkan jarak pandang di Kalbar anjlok hingga kurang dari satu kilometer, menciptakan situasi yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers yang disiarkan via YouTube BNPB baru-baru ini, menjelaskan bahwa di Kalimantan Barat terdeteksi 46 titik api. Titik-titik api ini telah melahap lebih dari 528 hektare lahan. "Tim kami berhasil memadamkan lebih dari 354 hektare, namun kualitas udara masih berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 km," ujar Berton, menyoroti tantangan yang terus-menerus dihadapi.

Upaya pemadaman, baik melalui satgas darat maupun udara, menghadapi rintangan berat. Berton menyoroti karakteristik lahan gambut yang membuat api sulit dipadamkan secara tuntas. "Jika sudah terbakar hingga kedalaman 4-5 meter di dalam tanah, sangat sulit untuk dibasahi dan dipadamkan apinya sampai sepadam-padamnya. Ini membutuhkan volume air yang sangat besar dan menjadi penyebab utama tebalnya asap yang mengurangi jarak pandang," paparnya. Minimnya curah hujan dan pertumbuhan awan di Kalbar juga memperparah situasi, membuat proses pemadaman semakin rumit. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar di wilayah tersebut masih berlangsung secara daring.
Gambaran serupa juga terjadi di provinsi lain. Di Kalimantan Tengah, BNPB mencatat 72 titik api dengan total lahan terbakar sekitar 739 hektare, di mana lebih dari 459 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Kualitas udara di Kalteng sendiri dikategorikan tidak sehat, dengan jarak pandang yang terbatas hingga 2,8 kilometer. Meskipun demikian, aktivitas belajar mengajar di sekolah masih berjalan normal, namun masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker dengan benar.
Sementara itu, Kalimantan Selatan menghadapi 31 titik api yang membakar sekitar 551 hektare lahan, dengan 103 hektare berhasil dipadamkan. Kualitas udara di Kalsel bervariasi dari kategori sedang hingga tidak sehat, dengan jarak pandang di bawah 9 kilometer.
Di Riau, jumlah titik api menunjukkan penurunan signifikan menjadi enam titik. Namun, luas lahan yang terbakar masih mencapai 159 hektare, dengan 39 hektare berhasil dipadamkan. Kualitas udara di sana berkisar dari sedang hingga tidak sehat, dengan jarak pandang di atas 9 kilometer. Jambi mencatat tujuh titik panas, membakar 18,5 hektare lahan, dan kualitas udara sedang hingga tidak sehat dengan jarak pandang sekitar tiga kilometer.
Tak luput dari ancaman karhutla, Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menghadapi 61 titik api yang melahap sekitar 400 hektare lahan. Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Melihat kondisi ini, BNPB terus mengimbau masyarakat di seluruh wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah pencegahan, termasuk penggunaan masker yang tepat saat beraktivitas di luar ruangan. Perjuangan melawan karhutla dan dampaknya terhadap kualitas udara di Kalimantan masih menjadi prioritas utama penanggulangan bencana nasional.
