Internationalmedia.co.id – News – Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, mengisyaratkan bahwa upaya perundingan untuk mencapai perdamaian di Ukraina akan menjadi proses yang berlarut-larut. Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Florida.
Dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada Minggu (28/12), Trump menyampaikan kepada awak media, didampingi Zelensky, bahwa resolusi konflik di Ukraina bisa terlihat dalam "beberapa minggu" jika progresnya positif. Namun, ia juga memperingatkan, "jika berjalan buruk, lebih lama." Laporan ini, yang dikutip oleh AFP, dirilis pada Senin (29/12).

Dalam upaya memajukan agenda perdamaian, Trump juga menawarkan diri untuk menyampaikan pidato di parlemen Ukraina. "Saya tidak yakin itu benar-benar perlu, tetapi jika itu dapat membantu menyelamatkan 25.000 nyawa per bulan, atau berapa pun jumlahnya, saya pasti bersedia melakukannya," tegasnya.
Pertemuan antara kedua pemimpin ini merupakan bagian dari serangkaian upaya intensif yang digalakkan Trump untuk mengakhiri konflik paling parah di Eropa sejak Perang Dunia II. Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, konflik ini telah merenggut puluhan ribu korban jiwa, menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, serta menghancurkan sebagian besar wilayah timur dan selatan Ukraina.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah proposal perdamaian 20 poin yang baru. Rencana ini mengusulkan pembekuan garis depan saat ini, penarikan pasukan Ukraina dari wilayah timur, dan pembentukan zona demiliterisasi sebagai penyangga.
Proposal 20 poin ini dianggap lebih bisa diterima oleh Kyiv dibandingkan dengan usulan 28 poin sebelumnya yang diajukan Washington bulan lalu, yang cenderung mengakomodasi banyak tuntutan utama Rusia. Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari Moskow terkait proposal terbaru tersebut.
Sebelumnya, Presiden Zelensky sendiri telah mengonfirmasi agenda pertemuan ini. "Pada akhir pekan, saya kira pada hari Minggu, di Florida, kami akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Trump," ujarnya.
