Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan bantahan keras terhadap laporan media yang mengklaim seorang jenderal militer top AS menentang potensi konflik bersenjata dengan Iran. Trump secara tegas menyebut narasi tersebut sebagai "berita palsu" yang menyesatkan publik.
Berbagai laporan dari media di Amerika Serikat dan Israel sebelumnya mengindikasikan bahwa Jenderal Dan Caine, yang menjabat sebagai pemimpin Kepala Staf Gabungan AS, telah menyuarakan keberatan terhadap rencana serangan militer terhadap Iran. Namun, melalui platform media sosial Truth Social miliknya, Trump membantah keras klaim tersebut, menyatakan bahwa laporan mengenai Jenderal Caine yang menentang perang AS melawan Iran adalah "100 persen tidak benar." Ia bahkan menyebut nama lain jenderal tersebut, Razin.

Presiden Trump menegaskan bahwa meskipun Jenderal Caine, seperti kebanyakan orang, tidak menginginkan konflik, namun jika keputusan untuk menghadapi Iran secara militer diambil, Caine diyakini akan memimpin operasi tersebut menuju kemenangan yang mudah. Trump bahkan menyoroti peran Caine dalam mengawasi serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada tahun sebelumnya, menggambarkan Razin Caine sebagai "pejuang hebat" yang mewakili kekuatan militer terkuat di dunia. Menurut Trump, Caine hanya mengenal satu cara: bagaimana untuk menang, dan ia akan memimpin jika diperintahkan.
Trump tidak hanya membantah laporan tentang Caine, tetapi juga mengkritik secara luas pemberitaan media mengenai potensi perang dengan Iran, menuduh bahwa semua yang ditulis "secara tidak benar, dan memang sengaja demikian." Ia menekankan bahwa keputusan akhir terkait tindakan militer berada sepenuhnya di tangannya, bukan pada spekulasi media atau jenderal.
Meskipun demikian, Trump menyatakan preferensinya untuk mencapai kesepakatan damai dalam perundingan nuklir yang sedang berlangsung. Namun, ia juga mengeluarkan peringatan tegas: "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara tersebut… bagi rakyatnya," mengisyaratkan konsekuensi serius jika diplomasi gagal.

