Internationalmedia.co.id – Rencana 20 poin yang diajukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, Palestina, menuai reaksi beragam. Hamas, kelompok yang menguasai Gaza, memilih untuk memberikan respons hati-hati setelah menerima salinan lengkap proposal tersebut. Sementara itu, warga Gaza yang telah merasakan pahitnya perang cenderung skeptis terhadap efektivitas rencana tersebut.
Seorang pejabat senior Hamas menyatakan bahwa pihaknya akan mempelajari proposal tersebut sebelum memberikan tanggapan resmi. Proposal Trump, yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, kabarnya berisi tuntutan agar Hamas melucuti senjata dan tidak lagi berperan dalam pemerintahan di masa depan. Namun, bagi anggota Hamas yang bersedia hidup damai, akan diberikan amnesti.

Di sisi lain, penduduk Gaza yang telah kehilangan tempat tinggal dan mengalami penderitaan akibat perang, mengungkapkan keraguan mereka. Abu Mazen Nassa (52), seorang warga Gaza yang mengungsi, menyebut rencana tersebut sebagai "lelucon".
Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat, yang diharapkan berperan dalam pemerintahan Gaza pasca-perang, menyambut baik upaya Trump. Dukungan juga datang dari delapan negara Arab dan Muslim, termasuk Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia, dan Pakistan, yang telah melakukan pembicaraan dengan Trump terkait inisiatif perdamaian ini.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyatakan dukungannya terhadap rencana Trump. Bahkan, Netanyahu mengancam akan "menyelesaikan" Hamas jika kelompok tersebut menolak proposal tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan bertindak sendiri jika Hamas menolak atau melawan rencana tersebut.
Rencana 20 poin Trump mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera dalam waktu 72 jam, pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza, dan pembentukan otoritas transisi pasca-perang yang dipimpin oleh Trump. Nasib rencana ini masih belum pasti, tergantung pada respons akhir dari Hamas.
