Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas minyak global adalah syarat mutlak bagi Iran jika mereka menginginkan kesepakatan perdamaian. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam forum Future Investment Initiative (FII) di Miami, Florida, pada Jumat (27/3) waktu setempat, di mana ia juga mengisyaratkan bahwa negosiasi untuk meredakan ketegangan antara kedua negara saat ini tengah berlangsung.
Dalam forum bisnis yang diselenggarakan Arab Saudi tersebut, Trump mengutarakan keyakinannya bahwa Iran sebenarnya siap untuk mencapai kesepakatan, terlepas dari penolakan yang disampaikan para pejabat Teheran secara publik. "Kami sedang bernegosiasi sekarang, dan akan sangat bagus jika kami bisa melakukan sesuatu, tetapi mereka (Iran) harus membukanya," ujar Trump, merujuk pada jalur perairan vital tersebut.

Momen menarik terjadi ketika Trump sempat menyebut jalur perairan strategis itu sebagai "Selat Trump," sebelum segera meralatnya dengan permintaan maaf. "Maaf, saya minta maaf. Kesalahan yang sangat buruk," katanya. Namun, ia kemudian menambahkan dengan nada bercanda bahwa "tidak ada insiden berarti dengan saya." Ia juga menyinggung bagaimana ia pernah memerintahkan penggantian nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika" di masa jabatan keduanya tahun lalu.
Trump juga tidak segan melontarkan kritik pedas terhadap Iran, menyebut negara itu "sedang dalam pelarian." Ia mengulangi klaim bahwa kepemimpinan Teheran, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan program nuklir mereka telah mengalami kerusakan signifikan.
Situasi di Selat Hormuz sendiri memang memanas. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang bebas. Namun, sejak awal Maret, aktivitas perlintasan di perairan strategis ini secara efektif dibatasi, memicu gejolak global yang ditandai dengan kenaikan signifikan biaya pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia.
Kekhawatiran juga datang dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang pada Jumat (27/3) menyuarakan kemungkinan Iran akan menetapkan "sistem tol" permanen bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Sementara itu, Garda Revolusi Iran telah menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan "musuh" Iran.
Laporan dari badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, mencatat setidaknya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini. Insiden-insiden ini semakin memperkeruh situasi di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.
Sebelumnya, dalam rapat kabinet sehari sebelumnya, Kamis (26/3), Trump bahkan sempat mengemukakan opsi untuk mengambil alih kendali minyak Iran, mencontoh langkah AS terhadap Venezuela, meskipun konflik masih berlangsung sengit. Langkah ini mengindikasikan tekanan ekonomi yang serius yang mungkin akan diterapkan AS terhadap Teheran.
