Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, khususnya Komisi VII, mendesak pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk lebih proaktif dalam mengoptimalkan keberadaan anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dorongan ini bertujuan agar anjungan-anjungan tersebut tidak hanya menjadi representasi fisik, melainkan pusat kegiatan seni, budaya, kriya, wastra, hingga kuliner khas yang dinamis. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, langkah ini dinilai krusial mengingat posisi strategis TMII sebagai etalase kekayaan budaya dan potensi daerah bagi masyarakat domestik maupun mancanegara.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati, menegaskan bahwa anjungan daerah di TMII harus bertransformasi dari sekadar bangunan simbolis menjadi ruang interaktif yang memperkenalkan karakter dan potensi unik setiap provinsi. "Kami mengimbau setiap pemerintah daerah, setiap provinsi, untuk menjadikan ini sebagai jendela untuk melihat Indonesia," ujar Rahayu, seperti dikutip internationalmedia.co.id. Ia menambahkan, bagi wisatawan yang belum memiliki kesempatan menjelajahi berbagai pelosok Nusantara, TMII menawarkan gambaran komprehensif tentang kekayaan budaya dari Maluku, Kalimantan Utara, dan daerah lainnya.

Pernyataan Rahayu ini disampaikan setelah Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke TMII, Jakarta Timur, baru-baru ini. Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPR meninjau langsung hasil revitalisasi kawasan serta beberapa anjungan daerah. Rahayu menekankan pentingnya memperbanyak aktivitas di setiap anjungan. Ia mengusulkan berbagai kegiatan seperti pertunjukan seni dari sanggar daerah, pameran kriya dan wastra, hingga promosi kuliner khas Nusantara. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi daya tarik utama sekaligus platform bagi masyarakat daerah untuk memamerkan produk dan kreativitas mereka.
Apresiasi turut disampaikan Rahayu kepada pengelola TMII atas inisiatif pemberian penghargaan bagi anjungan terbaik, yang berfungsi sebagai insentif positif bagi pemerintah daerah. Anjungan Kalimantan Selatan disebut-sebut sebagai salah satu contoh sukses, berhasil meraih penghargaan selama dua tahun berturut-turut. Rahayu meyakini, pola semacam ini akan memicu semangat kompetisi di antara pemerintah daerah untuk menciptakan program-program yang lebih kreatif dan berkelanjutan di anjungan masing-masing.
"Mari kita berbondong-bondong menghidupkan kembali anjungan-anjungan ini. Ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan, mulai dari pertunjukan seni hingga promosi produk daerah," seru Rahayu. Ia juga menyoroti potensi anjungan sebagai sarana efektif untuk mendekatkan generasi muda dengan kekayaan budaya Indonesia. Dengan mengemas kegiatan secara kreatif, seperti "fun run" atau acara komunitas, TMII dapat menarik minat kaum muda untuk datang dan merasakan langsung keberagaman Nusantara.
Rahayu menambahkan, bagi mereka yang terkendala waktu atau sumber daya untuk bepergian jauh, cukup luangkan satu hari atau akhir pekan di TMII untuk merasakan langsung pengalaman keberagaman Indonesia. Dengan penguatan aktivitas di setiap anjungan, harapan besar diletakkan agar TMII tidak hanya menjadi sekadar miniatur, melainkan sebuah platform promosi yang hidup bagi pemerintah daerah untuk memperkenalkan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan potensi unggulan wilayahnya secara lebih luas.
