Internationalmedia.co.id – News – Kerajaan Arab Saudi menegaskan hak penuhnya untuk merespons serangkaian serangan yang dilancarkan Iran ke ibu kota Riyadh dan berbagai wilayah lainnya. Riyadh mengecam tindakan tersebut sebagai agresi "terang-terangan dan pengecut", menandakan potensi peningkatan konflik di kawasan yang sudah tegang.
Serangan Iran ini bukan tanpa sebab. Beberapa hari terakhir, Teheran melancarkan agresi serentak terhadap negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer dan pasukan Amerika Serikat. Ini merupakan respons atas pengeboman yang dilakukan AS dan Israel terhadap wilayah Iran sejak Sabtu sebelumnya.

Peringatan tegas dari Riyadh ini disampaikan dalam sesi rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), melalui konferensi video pada Selasa malam. Menurut laporan Saudi Press Agency (SPA) yang dikutip Internationalmedia.co.id, Kerajaan Arab Saudi menekankan kembali hak mutlaknya untuk mengambil segala langkah yang dianggap perlu demi melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, penduduk, serta kepentingan vitalnya, termasuk opsi untuk melancarkan respons terhadap agresi tersebut.
Tidak hanya itu, dalam sesi kabinet tersebut, otoritas Saudi juga menyatakan solidaritas penuhnya terhadap negara-negara tetangga yang turut menjadi sasaran agresi terang-terangan Iran. SPA menyebutkan, hal ini mengindikasikan pembentukan front persatuan yang kuat melawan ancaman regional yang kian meningkat.
Sesi kabinet ini diselenggarakan menyusul rentetan serangan Iran yang terus mengguncang beberapa wilayah Saudi, termasuk insiden serangan drone langsung terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh.
Mayor Jenderal Turki al-Malki, juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, mengumumkan bahwa meskipun sistem pertahanan udara negara berhasil mencegat sejumlah ancaman, Kedutaan Besar AS mengalami "kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil". Al-Malki menambahkan, pasukan Saudi juga sukses menghancurkan delapan drone lainnya yang menargetkan Riyadh dan Al-Kharj pada Selasa pagi.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Saudi mengeluarkan pernyataan yang menyebut serangan terhadap kedutaan besar tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Riyadh memperingatkan bahwa "perilaku Iran yang berulang secara mencolok ini… akan mendorong kawasan menuju eskalasi lebih lanjut", sebuah sinyal bahaya akan potensi konflik yang lebih besar.

