Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan mencapai titik didih. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut-sebut semakin dekat untuk membentuk kerja sama militer dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sebuah langkah signifikan yang ditujukan untuk menghadapi Iran. Keputusan ini muncul setelah serangkaian serangan Iran yang tak henti-hentinya, yang telah mengguncang perekonomian negara-negara Teluk dan berisiko memberikan Teheran kendali jangka panjang atas Selat Hormuz yang vital. Laporan ini, yang pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal (WSJ) dan kemudian dilansir oleh Anadolu Agency, menandai potensi pergeseran besar dalam lanskap geopolitik regional.
Meskipun negara-negara Teluk sebelumnya menyatakan keengganan untuk terlibat dalam konflik militer langsung dengan Iran, tekanan kini semakin tak terhindarkan. Teheran terus mengancam untuk memperluas otoritasnya di wilayah kaya energi tersebut, mendorong sekutu-sekutu AS di Timur Tengah untuk mempertimbangkan opsi yang lebih tegas. Laporan WSJ mengindikasikan bahwa langkah-langkah terbaru dari Riyadh dan Abu Dhabi mendukung kemampuan Amerika untuk melancarkan serangan udara dan membuka jalur serangan baru terhadap keuangan Teheran. Namun, pengerahan militer secara terbuka dalam pertempuran tersebut belum dilakukan.

Arab Saudi, yang sebelumnya menolak penggunaan fasilitas atau wilayah udaranya untuk serangan terhadap Iran, kini menunjukkan perubahan sikap yang drastis. Kerajaan tersebut dilaporkan telah menyetujui penggunaan pangkalan udara King Fahd di sisi barat Semenanjung Arab oleh pasukan Amerika. Pergeseran kebijakan ini dipicu oleh rentetan serangan rudal dan drone Iran yang menargetkan ibu kota Riyadh serta infrastruktur energi vital Saudi. Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan, pekan lalu menegaskan, "Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran tidak terbatas. Keyakinan bahwa negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah kesalahan perhitungan." Sebuah sumber yang dikutip oleh Journal bahkan menyebutkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman kini bertekad membangun kembali daya gentar dan hampir mengambil keputusan untuk bergabung dalam serangan, mengindikasikan bahwa "hanya masalah waktu sebelum kerajaan memasuki perang."
Tidak hanya Arab Saudi, Uni Emirat Arab juga menunjukkan ketegasan serupa. UEA mulai menindak aset-aset milik Iran, mengancam jalur vital utama bagi penguasa di Teheran. Langkah ini diambil sambil mempertimbangkan pengerahan militer ke medan perang dan melobi menentang gencatan senjata yang dapat membiarkan sebagian kemampuan militer Iran tetap utuh. Sebagai bagian dari tindakan tersebut, UEA baru-baru ini menutup Rumah Sakit Iran dan Klub Iran di Dubai. Pejabat pemerintah dalam sebuah pernyataan menjelaskan bahwa "institusi-institusi tertentu yang terkait langsung dengan rezim Iran dan IRGC akan ditutup berdasarkan tindakan yang ditargetkan setelah ditemukan telah disalahgunakan untuk memajukan agenda yang tidak melayani rakyat Iran, dan melanggar hukum UEA."
UEA, yang telah lama menjadi pusat keuangan bagi bisnis Iran, juga memperingatkan Teheran tentang potensi pembekuan aset Iran senilai miliaran dolar. Langkah seperti itu dapat secara signifikan membatasi akses Iran terhadap mata uang asing dan jaringan perdagangan global, berpotensi mempercepat keruntuhan ekonominya yang sudah tertekan inflasi dan sanksi. Serangan-serangan terbaru terhadap fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar telah semakin menyatukan negara-negara Teluk dalam kekhawatiran mereka terhadap Iran. Qatar bahkan mengutuk serangan tersebut sebagai "eskalasi berbahaya dan ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya."
Para sekutu Timur Tengah ini terus berkomunikasi dengan Washington mengenai langkah-langkah selanjutnya dalam menghadapi Iran. Para ahli memprediksi, jika Teheran terus melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk, maka negara-negara tersebut kemungkinan besar tidak akan memiliki pilihan lain selain terlibat langsung dalam konflik yang lebih luas.

