Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menguraikan justifikasi di balik langkahnya mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di sekitar Iran. Penjelasan ini disampaikan dalam pidato kenegaraannya di hadapan Kongres AS pada Selasa (24/2) waktu setempat, di tengah ketegangan yang memuncak antara kedua negara, bahkan memicu prediksi akan pecahnya konflik.
Dalam pidatonya, seperti dilaporkan oleh internationalmedia.co.id, Trump menegaskan bahwa ambisi utamanya adalah untuk memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir. Namun, ia tidak memberikan rincian strategis yang komprehensif mengenai ancaman perang terhadap Teheran.

"Mereka (Iran) ingin membuat kesepakatan, tetapi kita belum mendengar komitmen tegas itu: Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump dalam bagian pidatonya yang relatif singkat tentang Iran. Ia juga menyebut diplomasi sebagai salah satu opsi, meskipun langkah ini diiringi dengan kehadiran signifikan armada laut AS di kawasan.
Presiden Trump mengklaim Iran berupaya memajukan program nuklirnya, bahkan setelah sebelumnya ia menyatakan serangan AS pada Juni tahun lalu telah "memusnahkan" program tersebut. "Mereka telah diperingatkan untuk tidak melakukan upaya-upaya lebih lanjut untuk membangun kembali program senjata mereka, khususnya, senjata nuklir. Namun mereka terus melakukannya, memulainya dari awal," ucapnya. "Kita telah menghancurkannya, dan mereka ingin memulainya lagi. Dan saat ini lagi, mereka mengejar ambisi jahat mereka."
Langkah pengerahan militer ini mencakup dua kapal induk raksasa. USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan Timur Tengah, sementara kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, telah tiba di pangkalan AS di Teluk Souda, Yunani, menambah kekuatan militer AS di dekat Iran.
Menanggapi tudingan tersebut, Iran secara konsisten membantah keras tuduhan pengembangan senjata nuklir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari yang sama, kembali menegaskan posisi negaranya melalui media sosial X, menyatakan, "Keyakinan mendasar kami sangat jelas: Iran dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir."
Araghchi sendiri memimpin delegasi Iran dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan AS, yang dijadwalkan berlanjut pada Kamis (26/2) di Jenewa, Swiss, dengan Oman berperan sebagai mediator. Namun, klaim Iran ini kerap disambut keraguan oleh banyak negara. Masa lalu Teheran yang pernah memperkaya uranium hingga tingkat yang sangat dekat dengan material senjata menjadi dasar keraguan tersebut.

