Internationalmedia.co.id – Kelompok Hamas secara terbuka meminta bantuan negara-negara mediator untuk menekan Israel agar memberikan akses aman bagi puluhan anggotanya yang terperangkap di jaringan terowongan bawah tanah Gaza selatan. Permintaan dramatis ini muncul setelah militer Israel mengklaim telah melenyapkan lebih dari 20 anggota Hamas dalam sepekan terakhir, yang disebut berusaha melarikan diri dari labirin bawah tanah tersebut.
Menurut laporan AFP, Jumat (28/11/2025), pengakuan ini menjadi yang pertama kalinya dari Hamas sejak gencatan senjata diberlakukan. Media Israel melaporkan bahwa antara 100 hingga 200 militan Hamas diyakini terjebak di bawah kota Rafah, wilayah yang kini dikendalikan oleh militer Israel.

Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan terus "mengejar, melikuidasi, dan menangkap para pejuang perlawanan yang terkepung di terowongan Rafah". Mereka juga menuntut Israel bertanggung jawab atas keselamatan para anggotanya dan mendesak mediator untuk segera bertindak.
Sebelumnya, utusan khusus AS, Steve Witkoff, sempat menyinggung soal keberadaan "200 pejuang yang terjebak di Rafah" dan menyebut penyerahan diri mereka bisa menjadi ujian bagi gencatan senjata. Namun, Israel tampaknya enggan berkompromi. Juru bicara pemerintah Israel menegaskan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak akan memberikan "perjalanan aman bagi 200 teroris Hamas" dan tetap bertekad untuk membongkar kemampuan militer Hamas serta melakukan demiliterisasi Jalur Gaza.
